Pakan Mahal, Peternak Ayam Petelur Merugi

Ket poto: Kandang Ayam peternak di Desa Banyubiru

Baliberkarya.com - Jembrana. Maraknya bisnis peternak ayam petelur dimasa pandemi Covid-19 yang menerapkan pembatasan kegiatan sehingga permintaan dipasaran menjadi berkurang, telur dipasaran menjadi melimpah dengan over populasi. Bertepatan dengan kejadian tersebut harga pakan ayam menjadi meningkat tajam terutama bahan pakan berupa sentrat, hingga hari ini terus meningkat.

Akibatnya banyak peternak kecil ayam petelur di daerah Jawa dan juga Bali kolap tidak bisa meneruskan usahanya, sebagian mereka tidak bisa melanjutkan peternakannya dikarenakan tingginya harga pakan ayam. Seperti halnya beberapa waktu lalu sebelum hari raya Kuningan peternak ayam petelur yang ada di Bali berbondong-bondong mengirim telurnya ke daerah Jawa, dikarakan disana terjadi kelangkaan.

Seperti halnya salah satu peternak ayam petelur bernama Wahyu dari Desa Banyubiru, saat kenaikan harga pakan ayam, dirinya hampir frustasi, dikarenakan harga pakan semakan naik akan tetapi harga telur masih standar. “Menurut informasi dari teman di Jawa kenaikan harga pakan ayam dikarenakan disana terjadi over populasi, telur melimpah disaat pandemi, pada hal saat itu terjadi pembatasan kegiatan jadinya permintaan telur menjdai sedikit,” terangnya. Kamis (23/6/2022).

Saat terjadi kenaikan pakan ayam, lanjut Wahyu, dirinya tidak berani gegabah untuk memenagement usahanya, sedikit ada kesalahan tidak bisa menutup kerugian biaya oprasional. “Beruntung saat musibah tersebut yang terjadi sebelum hari raya, hasil produksi telur yang dihasilkan ayam saya mencapai puncaknya, perhari mendapatkan 64 sampai krat butir telur dari 2.200 ekor yang saya punya di kandang,” jelasnya.

Saat sedang naiknya terus pakan ayam, imbuh Wahyu, dirinya bertahan selama 2 bulan penuh, dimana saat itu harga pakan naik akan tetapi tidak diikuti harga telur naik. “Saat itu saya hampir menyerah. Adanya kenaikan pakan ayam berupa sentrat, saya tidak mendapatkan keuntungan, hanya bisa bertahan untuk menutupi biaya oprasional. Saya bertahan dan tetap tidak mengurangi porsinya campuran pakan, kalau dikurangi nanti ayam tidak mengsilkan telur secara maksimal,” tuturnya.

Setiap hari, dirinya memberi makan ayamnya itu mencapai 5 saz pakan, yang dicampur dengan sentrat, jagung dan dadak. Kalau dihitung sebelum pakan naik harga perzak menghabiskan Rp 317.000 sampai Rp. 325.000, setelah harga pakan naik kami menghabiskan sebanyak Rp 345.000 perzak. Saya mencampur sendiri pakan dirumah, selain itu juga untuk menjaga ayam tetap sehat, saya juga memberi vitamin,akan tetapi selain harga sentrat naik juga diikuti harga vitamin juga naik, ini yang menjadi pikiran saya usaha hampir kolap kemarin. Saya berharpat semoga badai ini cepat berlalu,” tutup Wahyu. (BB)


TAGS :

Komentar