Perempuan Cantik Misterius Mengaku "Istri" Cokorda, Minta Maaf Kepada Keluarga Puri Pemecutan

  11 Februari 2022 OPINI Denpasar

IKUTI BALIBERKARYA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baliberkarya.com-Denpasar. Masih ingat dalam ingatan kita bagaimana heboh dan viralnya pemberitaan yang mengejutkan publik ditengah prosesi Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI atau Anak Agung Ngurah Manik Parasara muncul perempuan cantik misterius yang mengaku Wang Jero berteriak histeris saat layon Raja Pemecutan ke XI dinaikkan ke Lembu sebelum akhirnya disulut api di Setra Badung pada Jumat 21 Januari 2022 lalu.

Belakangan akhirnya terkuak jika perempuan cantik berpostur tinggi ini bernama lengkap Ni Komang Suryaningsih, SH asal Banjar dan Desa Dausa, Kintamani, Bangli. Setelah belasan tahun memendam rahasia yang menjadi ganjalan dihati dan pikiran, akhirnya kepada awak media di Kawasan Sanur, Denpasar (11/2/2022) Komang Suryaningsih kemudian secara blak-blakan membocorkan 'hubungan dekatnnya' dengan Raja Pemecutan XI.

Suryaningsih mengatakan pendidikan SD, SMP semuanya ia tempuh di Desa Dausa, Kintamani. Namun pada tahun 1991 ia melanjutkan pendidikan menengah atas ke SMA N 4 Singaraja. Dan barulah pada tahun 1994 ia menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud).

“Sebelumnya nama tiyang Ni Komang Suryani, kira-kira tahun 2002 almarhum bapak tiyang mengubah nama tiyang menjadi Ni Komang Suryaningsih, dengan tujuan agar kehidupan tiyang kedepan menjadi lebih baik,” tuturnya.

Menyangkut pertemuannya dengan Ida Cokorda Pemecutan XI, Suryaningsih mengaku kira-kira pada tahun 2008. Setelah sekian lama kenal, akhirnya ia mengklaim telah melangsungkan  Upacara Byakaon pada 26 April 2016, yang baginya sah sebagai istri secara niskala.

“Iya tiyang bisa dibilang istri ICP XI (Ida Cokorda Pemecutan XI) yang sah secara niskala, tapi belum sah di negara dan adat,” sebutnya.

Lebih jauh Suryaningsih menjelaskan dimana saat Ida Cokorda Pemecutan XI sakit dirawat di rumah sakit, ia berterus terang tidak bisa membesuk, hanya bisa mendoakan dan memohon kesembuhan. Hal tersebut menurutnya karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk membesuk atau membantu merawat Ida Cokorda Pemecutan XI.

Foto: Ni Komang Suryaningsih, SH asal Banjar dan Desa Dausa, Kintamani, Bangli.

“Tiyang datang kerumah sakit tapi tiyang tidak masuk keruangan. Tiyang cuma bisa mendoakan dari jauh dan melakukan persembahyangan ke Pura-Pura untuk memohon kesembuhan beliau (Ida Cokorda Pemecutan XI)," jelasnya

"Meski begitu tiyang selalu komunikasi dan menyampaikan perasaan melalui sms yang tiyang kirim ke nomor HP beliau. Hampir setiap hari tiyang sms yang dikenal dengan istilah ‘telepati’. Dengan harapan kesehatan beliau cepat pulih seperti sedia kala. Karena menurut dokter yang merawat, daya ingat beliau sudah semakin menurun,” imbuhnya.

Nah beberapa hari setelah Ida Cokorda Pemecutan XI meninggal dunia, Suryaningsih mengaku kerap melihat penampakan di langit beberapa mirip wajah, seperti sosok Ida Cokorda Pemecutan XI, Ida Nak Lingsir, dan sosok lainnya. Bahkan penampakan semakin terlihat jelas dilangit pada tanggal  30 desember 2021. Setelah melihat langsung fenomena alam tersebut, Suryaningsih pun akhirnya berinisiatif bertanya ke ‘orang pintar’ yang paham spiritual atas kejadian yang dialaminya.

"Karena banyak orang bilang mungkin almarhum (Ida Cokorda Pemecutan XI) ingin menyampaikan pesan ke tiyang," ungkapnya.

Setelah bertanya ke 'orang pintar' penekun spiritual untuk 'nunas baos’ atau petunjuk, Suryaningsih dalam petunjuk 'orang pintar' ini Ia menerima pesan agar membawa perlengkapan yang akan dibakar saat Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI dan menghaturkan tiga pejati. Tiga pejati ini untuk di haturkan setelah selesai pembakaran layon, untuk di Pura Prajapati, Pengesengan, dan Segara, dan menurut petunjuk niskala itu, bahwa banten itu yang akan ikut mengantar perjalanan Ida Cokorda Pemecutan XI menuju Sunia Loka.

“Dalam petunjuk niskala itu, waktu pelebon almarhum (Ida Cokorda Pemecutan XI) tiyang diminta harus datang dengan membawa pengangge (pakaian) dan barang-barang perlengkapannya, seperti yang tiyang lempar ke api saat Pelebon itu," katanya.

"Pesannya kalau bisa ditaruh di dada dan sentuh kaki ICP XI (Ida Cokorda Pemecutan XI), tapi kalau tidak diijinkan mundur dulu tunggu sampai layon dibakar dan barang-barang itu harus dilempar ke dalam api. Diantara barang-barang tersebut ada surat penting dari tiyang untuk ICP XI, itu katanya yang harus sampai terbakar api," tambahnya.

Disisi lain berdasarkan kata ‘orang pintar’ tersebut bahwa Upacara Byakaon antara Suryaningsih dengan Ida Cokorda Pemecutan XI yang telah dilaksanakan sebelumnya dianggap sah secara niskala. Untuk itu, atas petunjuk dari 'orang pintar' tersebut kini diawal panggilan Suryaningsih pun di isi Jero yakni Jero Suryaningsih.

Sesuai petunjuk 'orang pintar' itulah dengan tekad dan keyakinan yang kuat untuk melaksanakan permintaan terakhir Ida Cokorda Pemecutan XI, seolah tak mengenal takut Suryaningsih nekat hadir menuruti petunjuk niskala seperti yang ia lakukan saat prosesi Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI di Setra Badung tersebut.

“Tiyang seorang diri nerobos masuk diantara lautan manusia. Bisa dibilang saat itu, walaupun bertaruh nyawa pun akan tiyang lakukan untuk memenuhi keinginan terakhir ICP XI (Ida Cokorda Pemecutan XI)," tegasnya.

Suryaningsih pun menceritakan saat Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI, Ia sampai di bawah lembu, secara spontanitas dirinya menangis tak terkendali, dan setelah layon dimasukan ke lembu, ia berusaha mendekat dengan tujuan diijinkan naik menaruh pengangge dan lain-lain. Tapi secara tegas Ia ditolak dan dilarang, sehingga akhirnya mundur.

"Nah pas mundur mau jalan ke tempat yang agak jauh, lagi-lagi tanpa tiyang bisa kendalikan, tiyang berteriak keras sekali, terus balik badan untuk sembahyang dan sungkem di bawah lembu. Habis itu baru mencari tempat yang agak jauh, sambil nunggu layon di bakar,” ujarnya. 

Pada saat itu Suryaningsih juga memberi pakaian bernuansa merah kepada almarhum Ida Cokorda Pemecutan XI, karena dinilai beberapa tahun terakhir ICP XI kerap memakai pakaian berwarna merah. Mengenai barang-barang yang dilempar itu ada beberapa yang belum disebut dalam pemberitaan media, seperti handuk, kaca mata jam tangan, alat pembersih lidah, kaos dan celana dalam warna putih.

“Tiyang diminta beliin selendang dan saput yang ada warna merahnya, makanya tiyang beli beberapa selendang, dan saput yang kembang-kembang atau bunga-bunga merah,” ulasnya.

Selain itu, Suryaningsih juga membekali Ida Cokorda Pemecutan XI uang sebesar Rp 17.400 ribu, dimaknai sebagai angka ulang tahun Ida Cokorda Pemecutan XI dengan Jero Suryaningsih, yakni 17/04/1945 kelahiran Ida Cokorda Pemecutan XI dan 17/04/1976 kelahiran Ni Komang Suryaningsih. Mengenai wewangian kesukaan Ida Cokorda Pemecutan XI semasa hidup, dikatakan khusus menyukai wangi parfum opium dan dibeli di toko isi ulang.

“Beliau (Ida Cokorda Pemecutan XI) punya parfum Ori, tapi beliau lebih suka pakai parfum isi ulang, yang sering beliau beli di toko dekat patung suci, disana langganan ICP XI. Ini salah satu wujud kesederhanaan beliau. Tiyang sering nganter beli disana. Disana merupakan salah satu tempat ‘bersejarah’ bagi tiyang dan ICP XI, banyak kenangan. Kalau beli Parfum tidak pernah turun dari mobil, cukup buka kaca dan panggil penjualnya,” kenangnya.

Menurut Suryaningsih, pesan Ida Cokorda Pemecutan XI yang lain adalah setelah selesai upacara di Setra Badung dan keluarga Puri Pemecutan sudah berangkat ke pantai Kuta, saat itulah ia menyusul menghaturkan pejati di Pura Prajapati, Pengesengang, dan Segara Matahari Terbit.

“Setelah selesai di segara baru plong rasanya, ‘tugas’ yang dipercayakan ke tiyang akhirnya bisa tiyang selesaikan,” terang Wang Jero berparas ayu berambut panjang tersebut.

Diceritakan kembali, seusai upacara Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI secara tidak sengaja ia melihat tayangan video di Channel youtube prosesi pelebon saat menurunkan galih (tulang) Ida Cokorda Pemecutan XI. Menurut pengamatannya kumpulan galih tersebut terlihat seperti sosok bayangan ‘Hyang Semar’ dan diatasnya sosok bayangan ‘Ida Cokorda Pemecutan XI’ memakai destar dan kacamata.

“Ditempat yang sama, disebelah nike ada penampakan sosok perempuan cantik pakai jilbab, menurut tiyang pribadi mungkin itu leluhur ‘Ida Ratu Kramat’ mungkin. Dibawahnya ada penampakan perempuan dan laki-laki yang sudah lingsir, kemungkinan guru rupaka Atu (sebutan kepada Ida Cokorda) mungkin,” katanya.

Sementara, terkait ‘pernikahannya’ dengan Ida Cokorda Pemecutan XI berupa upacara Byakaon pada 26 April 2016, yang baginya sah sebagai istri secara niskala dan meski tindakannya dianggap keliru karena ‘pernikahannya’ tanpa sepengetahuan keluarga Puri Pemecutan, namun ada alasan tertentu yang membuat hubungan pribadinya ini bisa berlangsung.

Saat ia melakukan upacara Byakaon selain dengan Ida Cokorda Pemecutan XI, juga berlangsung dengan keris. Dimana menurut Ida Cokorda Pemecutan XI, bahwa keris tersebut adalah keris dari Majapahit. “Beliau mewanti-wanti tiyang untuk menjaga keris itu baik-baik seperti menjaga jiwa nyawa tiyang sendiri. Juga ICP XI sering bilang ke tiyang bahwa keris itu akan menjaga tiyang,” ungkap Suryaningsih.

Dalam kesempatan ini, secara tulus ia menyampaikan permohonan maaf yang ditujukan kepada keluarga Ida Cokorda Pemecutan XI dan keluarga besar Puri Pemecutan. “Dari hati yang paling dalam, tiyang betul-betul ingin minta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Ida Cokorda terutama yang pertama, Ratu Biyang A.A Ayu Suryaningsih, kedua A.A Sagung Ratna Ambar Sari, ketiga A.A Ngurah Agung Damar Negara, keempat A.A Sagung Mas Indah Sari, terakhir A.A Ngurah Gede Agung Kerta Gama, nike istri dan anak-anak Ida Cokorda Pemecutan. Atas nama tiyang atas nama Ida Cokorda Pemecutan XI, mohon maaf sedalam-dalamnya karena keberadaan tiyang di keluarga Ida Cokorda Pemecutan sudah pastinya bikin kekuarga Puri Pemecutan tidak nyamanlah selama tiyang ngiring Ida Cokorda, tapi apa boleh buat itu semua sudah terjadi," ucap Suryaningsih dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

"Tiyang ten purun sareng keluarga ICP XI, Istri dan anak-anak beliau, akan tetapi tiyang lebih-lebih ten purun, hormat, bakti sareng ICP XI, karena bagi tiyang ICP XI adalah ‘anugerah’ bagi tiyang. Terkhusus untuk keluarga besar Puri Pemecutan, dengan tulus dari hati tiyang yang paling dalam, titiang nunas geng sinampura sawireh titiang sampun purun ngiring pikayun ICP XI, padahal titiang tahu dan sadar kalau derajat titiang sangat jauh berbeda, bagai bumi dan langit. Beliau seorang Raja dari keluarga Raja Agung, sementara titiang cuma rakyat jelata, berasal dari keluarga yang sederhana di desa. Akan tetapi, semua sudah terjadi, sudah berlalu, sudah terjadi kekeliruan karena keadaan. Tiyang cuma berharap semoga kedepannya semua ‘kekeliruan’ bisa dicarikan jalan keluarnya untuk kebaikan kita bersama," harapnya.

Sementara untuk keluarga besarnya, lanjut Suryaningsih, sertabuntuk semua orang yang dia kenal maupun tidak kenal kalau ada dirinya dan atas nama ICP XI melakukan kesalahan, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja mohon dimaafkan.
"Kita sebagai manusia biasa, begitu juga ICP XI selama hidup pasti pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa, untuk itu sekali lagi tolong maafkan kami. Kalau boleh tiyang minta sekali lagi, mengingat ICP XI mangkin sampun Lebar (meninggal dunia) mari kita kenang atau ingat sisi-sisi baik dari beliau saja, jangan lagi kita mengingat atau mengenang kesalahan-kesalahan, dosa-dosa beliau semasa beliau masih hidup, terima kasih,” pintanya.

Untuk memulai babak baru kehiduoannya, Ia pun berencana kedepannya mulai mencari pekerjaan untuk bisa melanjutkan hidup, dan berharap rezekinya dilancarkan agar bisa mewujudkan keinginan-keinginan almarhum yang sering dibicarakan yang selama ini belum bisa terwujud.

“Agar beliau tidak ada ganjalan ‘utang’ didunia ini sehingga almarhum bisa tenang di alam sana. Salah satu keinginan almarhum untuk sembahyang ke Pura Besakih (kawitan) sudah tiyang wujudkan, waktu beliau sakit tiyang nangkil ke Pura Kawitan beliau untuk memohonkan maaf dan memohon kesembuhan almarhum,” tutup Suryaningsih.(BB).