Pengembangan Pariwisata Bali Terhalang Minimnya Guide Bahasa Mandarin

  01 September 2016 EKONOMI Nasional

istimewa

IKUTI BALIBERKARYA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baliberkarya.com - Nasional. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, jumlah guide yang berbahasa Mandarin, masih kurang sehingga menjadi tantangan yang harus dengan cepat dikejar dalam pengembangan pariwisata Bali. 
 
Hal ini mengingat potensi pasar turis Tiongkok sangat besar, tahun lalu saja ada 120 juta outbound China.
 
"Di Shanghai pekan lalu, problem itu juga dirasakan oleh tour operator dan tour agency di Tiongkok, problem bahasa. Bedanya dengan Thailand, mereka juga belajar dan sudah mulai banyak yang bisa berkomunikasi Mandarin. Lagi-lagi, ini tantangan kita untuk mengejar ketinggalan dalam hal guide yang bisa berbahasa Mandarin," kata Arief Yahya.
 
Ia menilai Bali adalah gapura pariwisata Indonesia, 40% wisman masuk melalui Ngurah Rai Airport. Karena itu, hal-hal yang berpotensi menjadi bottlenecking dalam memajukan destinasi Bali harus ditangani dengan cepat. Terutama yang menyangkut 3A, atraksi, akses dan amenitas. Termasuk ekses atas "banjir turis Tiongkok" di seluruh penjuru dunia.
 
Ketua Pokja Percepatan 10 Top Destinasi, Hiramsyah Sambudhy Thaib dalam sebuah acara di Bali, sebelumnya menjelaskan Kemenpar sangat menyadari hal itu. "Tentu, Kemenpar sudah sangat paham akan tantangan itu. Soal SDM itu ada Deputi Kelembagaan dan SDM yang concern menangani pramuwisata soal bahasa Mandarin dan turis Tiongkok itu," jelas Hiram.
 
Hiram sekaligus meluruskan judul berita di sebuah media yang menyebutkan Kemenpar mengijinkan guide China illegal beroperasi di Bali yang bisa menciptakan persepsi berbeda. "Kesalahan persepsi itu biasa dalam komunikasi, yang penting inilah yang saya sampaikan," jelas Hiramsyah yang wanti-wanti jangan salah makna lagi.
 
Soal ekses akibat derasnya arus wisman ke Bali, seperti guide dan juru foto yang dibawa dari Tiongkok, Hiramsyah juga sudah menegaskan semua akan terjawab ketika tantangan guide yang berbahasa Mandarin itu selesai. Hal inilah yang sekarang sedang getol-getolnya dilakukan Deputi Kelebagaan dan SDM Kemenpar.
 
Bahkan bukan hanya yang berbahasa Mandarin, kami juga menyiapkan guide yang berbahasa Arab untuk pasar Halal Destination, seperti Lombok, Sumbar dan Aceh, yang kondisinya juga kurang," jelas Hiram.
 
Deputi Kelembagaan dan SDM Kemenpar, Ahman Sya, menambahkan tantangan itu bukan wacana lagi, sejak 2 minggu lalu, pihaknya sudah melangkah bersama HPI (Himpunan Pramuwisata Pusat) dan Dinas Pariwisata Provinsi Bali. 
 
"Pertama, Pemprov Bali memberi kemudahan untuk memberikan lisensi pemandu wisata berbahasa Mandarin. Sekarang ada lisensi sementara yang berlaku 1 tahun, dari umumnya 3 tahun," kata Ahman Sya.
 
Kedua, ada pendampingan terhadap pemandu wisata asing oleh HPI, dan organisasi itu sudah siap agar wisatawan tidak kehilangan guide dan Perda Provinsi Bali tidak dilanggar. Ketiga, melakukan sosialisasi kepada biro perjalanan wisata agar dalam hal kebutuhan guide berkoordinasi dengan HPI. 
 
"Kini sudah ada 585 orang calon guide yang siap diuji HPI. Jadi tinggal menunggu timing, dalam waktu dekat," kata Ahman Sya.
 
Jumlah pemandu wisata yang disiapkan dan difasilitasi Kemenpar tahun 2016 ini ada 1.500 orang. Khusus untuk Great Bali 400, Jakarta 750, dan Batam-Bintan 350 orang. 
 
Khusus Bahasa Mandarin yang sudah dilatih di Bali ada 150 orang, Batam 50 orang. Sedang yang mandiri, melakukan sendiri, belajar sendiri di Bali ada 585 orang. Kebutuhan 2016 untuk seluruh Indonesia ada 1.000 guide.(BB/inilah).