Mahasiswa Ini Mampu Ubah Limbah Tahu dan Alga Jadi Makanan Bergizi

  11 Juni 2016 HIBURAN Nasional

malangvoice.com

IKUTI BALIBERKARYA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baliberkarya.com - Nasional. Melihat luasnya garis pantai dan sumber daya perairan Indonesia yang sangat berpotensi, empat mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, yakni Ahfad Ulfa (angkatan 2012), Dini N. (2012), Galuh Aulia (2013) dan Olivia Dirga (2013) memanfaatkan alga menjadi bahan pangan tinggi protein.
 
Innovasi yang mereka dinamai Nanno Healty Powder ini merupakan sebuah produk suplemen bubuk yang berasal dari mikroalga Nannochloropsis sp dengan kandungan protein 52,11%, karbohidrat 16%, lemak 27,64%, dan klorofil 0,89%.
 
Tim yang diketuai Ahmad Ulfa ini melakukan inovasi produksi melalui peningkatan nutrisi pertumbuhan mikroalga Nannochloropsis sp dengan penambahan limbah cair tahu.
 
"Melimpahnya limbah cair tahu yang tidak termanfaatkan juga menjadi latar belakang kami membuat produk ini. Padahal berdasarkan uji laboratorium, masih banyak terdapat kandungan nutrisi pada limbah itu," jelas Ulfa.
 
Ia menjelaskan, beberapa zat penting yang terkadung dalam limbah tahu di antaranya adalah ammonium, fosfat, dan nitrat. Biasanya limbah tahu ini dibuang begitu saja oleh para produsen tahu karena aromanya yang cukup menyengat.
 
"Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan sejak Februari 2016 lalu, mikroalga yang telah mendapat penambahan limbah tahu akan meningkat jumlah selnya. Dengan demikian, tentu saja kandungan nutrisinya juga akan meningkat. Jadi proses produksi akan lebih efisien," jelas Ulfa.
 
Hasil produksi mikroalga Nannochloropsis sp dengan penambahan limbah tahu inilah yang kemudian akan diproses lebih lanjut dengan teknologi nanno untuk diolah menjadi suplemen kesehatan yang berguna bagi manusia.
 
Kandungan nutrisi terbesar dalam Nannochloropsis sp adalah protein, menurut tim bimbingan Agustin Krisna Wardani STP MSi PhD ini, produk Nanno Healthy sangat berpotensi sebagai sumber protein masa depan bagi kebutuhan hidup manusia.
 
"Berdasarkan uji laboratorium, kandungan protein alga lebih tinggi dibandingan hewan dan tumbuhan. Selain itu, berbeda dengan protein yang bersumber dari flora fauna, Nanno Healthy ini dapat diproduksi kapanpun, tanpa bergantung pada iklim, musim, maupun cuaca," jelas Agustin, yang merupakan dosen Bioteknologi Pangan di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.
 
Karena diproduksi menggunakan limbah, tentu harganya relatif lebih murah. Proyek ini pun bertujuan bagi kelestarian lingkungan karena bertujuan mengurangi polusi sungai dan udara.
 
"Salah satu keunggulan lain Nanno Healty Powder adalah dapat dikonsumsi sebagai sumber protein dalam pembuatan sumplemen atau ditambahkan dalam berbagai bahan pangan bagi vegetarian," pungkasnya. (BB/inilah).