Yoga dalam Tari dan Tabuh

Granoka, Membangun Yoga dalam Tari dan Tabuh

  01 Maret 2016 TOKOH Denpasar

landofyoga.com

IKUTI BALIBERKARYA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

YOGA ternyata tidak selalu harus dilakukan dengan sikap diam, hening, dan konsentrasi penuh dalam meditasi. Yoga juga dapat dilakukan dalam tari, tabuh, dan tembang sehingga seluruh penari, penabuh, dan penembang menjadi para yogin atau pelaku yoga. Tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mencapai "leburnya sang diri" dalam kesadaran semesta.

ITULAH yang selalu dilatih dengan sabar, tekun, tetapi tanpa paksaan dalam Sanggar Bajra Sandhi sejak berdirinya, 5 Oktober 1991. Pembina dan pendirinya adalah alumnus dan dosen tetap Jurusan Bahasa Bali Universitas Udayana, Ida Wayan Oka Granoka. Adapun anak-anak binaannya bervariasi, mulai usia TK, remaja, sampai dewasa. Kebanyakan mereka anak-anak di sekitar sanggar yang sekaligus menjadi rumah tinggal Granoka di Banjar Batukandik, Padangsambian, sekitar 6 kilometer sebelah Barat Kota Denpasar.

"Tabuh penciptaan besar (tabuh pengawe agung) telah diciptakan berabad yang lalu oleh para yogi kita. Tapi kita belum dapat mengembangkannya secara berarti," ujar ayah empat putri dan seorang putra yang semuanya berbakat seni tari dan karawitan itu. Putrinya yang pertama, Ida Ayu Wayan Arya Satyani (39), dan putri kedua, Ida Ayu Made Bharali Pundarawarsini (36), adalah alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar Jurusan Tari.

Putri ketiga, Ida Ayu Nyoman Dianapani (33), lulusan filsafat di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAH) Denpasar. Putri keempat, Ida Ayu Wayan Prihandari (27, sementara satu-satunya putranya adalah, Ida Made Bagus Adnya Gentorang (24).

Ibu kelima anak ini, Ida Ayu Supraba (63), adalah juga seorang penari dan penabuh. Jadi lengkaplah seluruh keluarga berdarah seni: penari, penabuh, penembang, dan dalang. Sementara sang ayah yang juga memiliki keahlian melukis adalah seorang filosof yang selalu tenggelam dalam yoga musik.

"Tujuan saya mencapai seni pembebasan, seni yang membangun etika lebih tinggi, yaitu seni dengan spirit ketuhanan," ujarnya lagi. Menurut putra seniman Ida Made Jelantik Kedot dengan ibu Jro Mertawati yang juga penari itu, "seni pembebasan dengan spirit ketuhanan" sangat terabaikan dalam perkembangan kesenian Bali sekarang ini. "Bahkan nol," katanya kecewa.

Maka, untuk meneruskan langkah besar para yogin kesenian Bali di masa lalu, Granoka dengan sanggarnya memulai dari langkah kecil, yaitu keluarga sendiri: bersama istri dan anak-anaknya. Barulah kemudian anggota masyarakat lainnya yang merasa tertarik ikut serta. Mereka berasal dari Denpasar, Gianyar, Bangli, dan Karangasem, khususnya dari Desa Budakeling, daerah asal kelahiran Granoka sekeluarga.

Terbentuklah Sanggar Bajra Sandhi dengan barisan anak-anaknya, mulai usia pra-sekolah (tetapi sudah ketagihan menari dan menabuh) sampai usia 14 tahun. Hanya para pengasuh sanggar yang sudah berkeluarga. Tetapi, meskipun terdiri dari para bocah, ketika pentas dengan konsep "teater total" (di mana para penari adalah juga penabuh, penembang, dan dalang sekaligus), tidak sedikit penonton yang terpana, bahkan sampai menitikkan air mata karena haru dan kagum. Setidaknya itulah yang terekam oleh pers ketika sanggar ini tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 1995, 1996, dan 1997.

Pada tahun 1998, sanggar menerbitkan sebuah memoar yang diberi judul Perburuan ke Prana Jiwa. Prof Dr Edi Sedyawati selaku Direktur Jenderal Kebudayaan ketika itu menyebut buku tersebut sebuah eksplorasi terhadap teks-teks yang bernuansa religius, sekaligus mencoba menggapai interpretasi melalui penghayatan yang mendalam lewat jalur seni. Sementara itu, Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) menyebut Granoka termasuk di antara sedikit seniman yang berusaha menemukan kristalisasi estetiknya dalam pendalaman filsafat.

Kini bocah-bocah berbakat yang mengawali Bajra Sandhi itu telah beranjak remaja dan dewasa. Mereka tetap aktif, di samping bocah-bocah lain yang masuk memperkuat sanggar. Ciptaan baru pun bermunculan.

Seperti Baris Sankalpa yang mengisahkan penciptaan semesta (kosmogoni), gending tengah dalu (nyanyian tengah malam), barong, legong, bahkan sampai ke meta-linguistik. Semuanya muncul dari konsep yoga dan menuju pencapaian yoga.

Sebutlah, misalnya, Baris Sankalpa yang ditarikan Ida Made Bagus Adnya Gentorang yang baru berusia 12 tahun. Tarian ini penuh dengan gerakan detail mata dan tangan, seolah menggedor pintu Dewa Brahma bagi terjadinya penciptaan-penciptaan baru.

Ketika sekelompok yogin dari Amerika datang ke Bali tahun 2004 lalu, mereka mendengar pula tentang Sanggar Bajra Sandhi. Mereka yang tergabung dalam Meditasi Perdamaian pimpinan Sri Chinmoy itu minta agar bisa mendengarkan tabuh-tabuhan gamelan sanggar ini. "Ternyata mereka mendengarkan alunan gamelan kami sambil melakukan meditasi," ujar Granoka.

Tampaknya bukan hanya para yogin dari Amerika itu saja yang merasakan getaran suci dari tari dan karawitan Bajra Sandhi, tetapi juga para penari dan penabuhnya. Terbukti, sejumlah orangtua penari dan penabuh mengatakan kepada Granoka bahwa anak-anak mereka yang semula sakit-sakitan telah menjadi segar kembali setelah bergabung dengan sanggar ini.

Dalam beberapa PKB, Sanggar Bajra Sandhi kembali diundang untuk ikut mengisi acara. Di tengah kritik dan kekecewaan terhadap rutinitas PKB selama ini, Granoka ikut prihatin.

"Sudah pantas diajukan sebuah pertanyaan yang agak dewasa dan mendasar terhadap masa depan PKB. Kalau tidak dapat memberikan ruang leluasa bagi berkembangnya pikiran jernih inti tattwa (filsafat), lalu apa misi PKB? Hanya untuk kecenderungan pasar, pesta, dan sejenisnya?" katanya dalam suatu diskusi.

Menurut berita, Sanggar Bajra Sandhi akan diberikan kesempatan untuk mengikuti Festival Musik Sakral di Maroko pada tahun 2005. Bali belum pernah mengikuti festival tersebut, padahal Bali memiliki banyak tarian dan musik yang disakralkan oleh masyarakatnya. (kos)