Cerita Pura Ulun Danu Pagubugan Yang Diikuti Duwe Macan Berbagai Warna

Ket poto : Pura Khayangan Jagat Ulun Danu Pagubugan

Baliberkarya.com - Jembrana. Keberadaan Pura Khayangan Jagat Ulun Danu Pagubugan yang bertempat disebelah utara bendungan Bendel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana diyakini memberi berkah untuk para petani, terbukti sampai sekarang hasil padi selalu memuaskan.

Keberadaan Pura tersebut juga sangat misterius, dimana para pengawalnya (Duwe) berbentuk macan berbagai warna dan juga ada gambelan gong kuno. Sekitar tahun 2018 saat Bupati Jembrana yang sekarang I Nengah Tamba saat masih menjabat DPRD Prov. Bali tergugah hatinya setelah mendengarkan cerita dari warga  untuk membangun penataran yang berisi meru dan merenopasi pura aslinya diatas batu.

Sebelumnya di tahun 2013 akses masuk kepura tersebut hanya sebatas jalan setapak. Di tahun 2018 setelah dibangun pura penataran dan merenovasi pura yang diatas batu juga dibangun akses jalan agar mobil bisa masuk kesana. Sebelumnya untuk membawa bahan material untuk pembangunan pura tersebut hanya mempergunakan sepeda motor.

Diketahui pura yang jaraknya 2,5 kilometer dari Bendungan Bendel tersebut diempon oleh 9 pemucuk artinya 9 subak ditambah penyanding. Secara umum Pura tersebut diempon Desa Kaliakah, yang dikaui 10 subak ada didalamnya diantaranya, 1 dari Desa Manistutu, 7  dari Desa Kaliakah dan 2 dari Desa Baluk yang ikut mengempon

Menurut Pengakuan dari Sekretaris Pura Kahyangan Jagat Samania Wana Giri Mertha Pura Khayangan jagat Ulun danu Pagubugan I Ketut Riasna, dirinya mengatakan, awalnya dahulu jaman Jepang, petani di daerah Desa Kaliakah susah pada saat mau panen padi terus rusak, saat itu ada orang muslim ikut bekerja di sawah.

“Orang muslim tersebut didatangi oleh orang baju putih, dia berkata, “yen cening mekita padi tetap nadi rereh genah nira ring pelinggih diduur batu disamping campuhan mepinget ajak jepun 2 punye teken puyan duren 2 punye” (jika anda mau padi tetap bagus hasilnya carilah saya di pelinggih atas batu disampingnya terdapat belahan sungai, disana ada 2 pohon durian dan 2 pohon bunga jepun),” terangnya.

Mendapatkan informasi tersebut,lanjut Riasna, warga melapor ke Puri Gede Jembrana, sehingga pihak Puri Gede Jembrana mengutus warga yang mengetahui tempat tersebut. Warga yang biasanya mengetahui hutan tersebut kesulitan menemukan pura tersebut, sehingga diputuskanlah untuk sembahyang di Pura Pulaki Banjar Munduk untuk meminta petunjuk.

“Setelah sembahyang pihak Puri Gede Jembrana akhirnya mendapat petunjuk disuruh mengikuti suara gong sieng (seekor macam) yang merupakan ancangan duwe pura tersebut, akhirnya dimulailah pencaharian pura tersebut. Setiap warga yang diutus tersebut paling, berbunyilah macam tersebut sehingga warga mengikuti suara macan tersebut, sepenjang perjalanan terus seperti itu jika paling macan tersebut bersuara,” kisahnya.

Akhirnya, imbuh Riasna, rombongan ketemulah dengan pura tersebut seperti petunjuk di Pura Pulaki tersebut dimana pura itu diapit oleh sungai yang bernama campuhan, disana juga memang terdapat 2 pohon durian dan pohon bunga jepun, diatas batu memang ada pelinggih.

 

“Dikarenakan tempat pura yang diatas batu tersebut sempit dibuatlah pura persimpangan, agar pura yang aslinya memang benar-benar disucikan bertempat di sebelah barat pura tersebut. Ditahun 2013 direhab total dibuatkan penataran berisi pelinggih meru. Setelah meminta petunjuk sulinggih (Pendeta Hindu) dibuatkanlah peraturan bahwa piodalan disana setiap tahun. Tepatnya di Anggar Kasih Perangbakat,” uraiannya.

Dipura diatas batu tersebut, kata Riasna, dulunya terdapat sebuah gambelan gong kuno sebanyak kurang lebih 3 pasang yang ditempatkan di lumbung pura tersebut. Sekarang jumlah daun gongnya sebanyak 7 buah. Dulu ada 3 pasang gong sekarang hanya ada 1 pasang entah dihanyutkan oleh banjir atau dicuri.

“Dulu sempat ada yang mengambil untuk dibawa ke pande besi. Orang yang mengambil gong tersebut, saat gong dipukul dengan besik terjadi keanehan dan ledakan menyebabkan rumah pande besi tersebut terbakar, sehingga gong itu langsung dikembalikan ke pura tersebut. Saya tidak tahu persis gong tersebut mungkin sudah dari dulu ada disana,: paparnya.

Lebih jelasnya Riasna mengatakan, terkait ancangan dari pura tersebut memang berupa macam berbagai warna. Yang biasanya sering kelihatan hanya macan warna hitam dan poleng. Akan tetapi yang berwarna hitan dikarenakan pingit jarang kelihatan, sedangkan yang warnanya poleng rajin sekali menampakna wujudnya. “Menurut ukurannya, kami juga bingung, kadang-kadang ukuran besarnya seperti kucing peliharaan, kalau memang ada sesuatu kadang-kadang besarnya menyamai kuda,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada saat pembangunan pura persimpangan ini, banyak pekerja yang melihat duwe pura tersebut yang saat itu berukuran besarnya seperti kucing. “Melihat kelucuan duwe tersebut bahkan para pekerja senang bermain-main, bahkan juga ada pekerja, duwe tersebut hendak mau dibawa pulang. Saat diberi makan keberingasannya terlihat dewe tersebut lari seketika hilang dimata pekerja tersebut,” pungkasnya. (BB)

 


TAGS :

Komentar