Tiga Pertimbangan 15 Banjar Adat Desa Ungasan Sepakat Tak Buat dan Pawai Ogoh-ogoh

Foto: Bendesa Adat Ungasan, Wayan Disel Astawa, SE

Baliberkarya.com-Ungasan. Menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Majelis Desa Adat (MDA) Bali dan penegasan Gubernur Bali terkait pawai ogoh-ogoh menyambut hari Raya Nyepi tahun saka 1944, 15 banjar adat yang terdapat di Desa Adat Ungasan Kecamatan Kuta Selatan, Badung sepakat tidak melaksanakan pembuatan maupun pawai ogoh-ogoh jelang Hari Raya Nyepi pada Maret mendatang. 

Bendesa Adat Ungasan, Wayan Disel Astawa, SE menyatakan ada tiga pertimbangan sehingga klian banjar adat dan sekaa teruna yang ada 15 banjar sepakat di Desa Adat Ungasan Kecamatan Kuta Selatan, Badung tidak melaksanakan pembuatan maupun pawai ogoh-ogoh jelang Hari Raya Nyepi nanti. 

Pertimbangan pertama, kata Disel, bahwa walaupun diberikan keleluasaan oleh SE tersebut menampilkan kreativitas bagi anak muda dimasa pandemi, namun masih ada pengetatan di poin satu yaitu tentang bagi pelaksanaan ogoh-ogoh diharuskan melakukan swab antigen di masing-masing banjar, dimana dari pesertanya 50 orang itu dianggap sangat berat bagi pelaksana sekaa teruna dan yang lainnya untuk mengamankan dari sisi protokol kesehatan (Prokes).

"Sehingga diputuskan untuk tidak melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh tersebut demi untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan perayaan hari raya Nyepi 1944 yang akan dilaksanakan bulan Maret 2022 mendatang," kata Disel kepada awak media, Jumat 14 Januari 2022.

Disel yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bali ini menyebut pertimbangan kedua yaitu dari sisi ekonomi dimana masyarakat Bali saat ini sudah sangat susah, sehingga kalau sekaa teruna minta bantuan berupa sumbangan kepada pengusaha-pengusaha yang ada tentu tidak memungkinkan karena 2 tahun usahanya sudah tiarap karena pandemi. 

Menurutnya, kalaupun ada bantuan dari pemerintah kabupaten sebesar 10 juta dan dari desa adat ssbanyak 10 juta, namun jika dihitung pembiayaan swab antigen 50 orang dikali 100 ribu maka menghabiskan biaya 5 juta rupiah. 

"Maka jika punya uang 20 juta dipotong swab antigen sehingga tersisa 15 juta untuk biaya peralatan lainnya maka dengan pertimbangan itu akhirnya para pemuda tidak melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh," jelas Diesel. 

Sementara pertimbangan ketiga, lanjut Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Bali ini adalah memperhatikan dari SE tersebut lebih baik tidak melaksanakan pembuatan dan pawai ogoh-ogoh untuk menciptakan harapan bagi Pemerintah Bali agar tercipta cepatnya pulihnya pariwisata Bali dan suksesnya pelaksanaan G20 yang akan dilaksanakan di Bali. 

"Itu yang membuat motivasi daripada klian adat banjar dan sekaa teruna adat kami di desa adat Ungasan yang jumlahnya 15 banjar adat sepakat untuk tidak melaksanakan pembuatan dan pawai ogoh-ogoh," tegas Pengusaha sukses di Badung selatan tersebut. 

Dari semua yang menjadi pertimbangan klian adat maupun para muda di Desa Ungasan sehingga Disel selaku bendesa adat sangat memandang perlu memberikan apresiasi terhadap pengertian dan pemahaman dari pada generasi muda di Ungasan yang selama ini dibina dan didik oleh Desa Adat Ungasan.

"Saya sangat memberikan apresiasi positif terhadap generasi kami yakni anak muda kami yang sangat paham betul terhadap keberadaan Bali itu sendiri yang bersumber dari pariwisata. Karena apabila ia melakukan sesuatu pelanggaran terhadap kegiatan tersebut, jika ada lonjakan akibat dari pelaksanaan ogoh-ogoh sehingga akan mengakibatkan semakin lamanya pandemi Covid," tutup Disel.(BB). 

 


TAGS :

Komentar