Pengarakan Ogoh-Ogoh di Jembrana Masih Diperhitungkan

Ket poto : Rapat Koordinasi pembuatan dan pengarakan Ogoh-Ogoh di Pemkab Jembrana

Baliberkarya.com - Jembrana. Setelah dilakukannya rapat koordinasi seluruh Forkopimda Kabupaten Jembrana dengan Majelis Desa Adat Kabupaten Jembrana yang bertempat di lantai 3 Pemkab Jembrana dengan hasil pembuatan ogoh-ogoh untuk menyambut Hari raya Nyepi Tahun masehi 2022 pembuatan Ogoh-Ogoh tetap diijinkan, akan tetapi pengarakan dan parade lomba masih dipetimbakan.

Dalam SE (Surat Edaran) Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali nomor : 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021 tentang pembuatan dan pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut hari suci Nyepi Saka 1944. Dalam SE itu tertuang Sekaa teruna di masing-masing desa adat di Bali, diizinkan untuk membuat hingga pawai ogoh-ogoh. Akan tetapi keputusan itu masih dipertimbangkan dan menunggu di minggu pertama dan kedua di bulan Februari serta melihat perkembangan tran covid-19 nantinya.

Masuknya  varian Omicron Ke Indonesia menjadi salah satu pertimbangan. Keputusan itu disampaikan Bupati Jembrana I Nengah Tamba saat memimpin rakor (rapat koordinasi) dalam rangka persiapan menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1944 Tahun 2022 bersama Wabup Patriana Krisna, Forkopimda Jembrana serta instansi terkait di Ruang Rapat Lantai III Kantor Bupati Jembrana, Kamis (13/1/2022).

“Kita tidak ingin membatasi kreativitas dari sekaa terune yang ada di masing-masing desa adat. Kita juga memahami masyarakat sangat rindu akan adanya kreasi ogoh-ogoh. Namun begitu jangan sampai menjadi pemicu meningkatnya angka terkonfirmasi Covid-19 karena kita tahu pawai ogoh-ogoh tentu akan mengundang keramian dan rentan mengabaikan protokol kesehatan,” Kata Bupati Tamba.

Untuk itu sesuai dengan hasil rapat koordinasi hari ini, Kamis (13/1), Bupati menyebut lomba ogoh-ogoh sendiri akan tetap dilaksanakan dengan berbagai catatan. Diantaranya, selama proses penggarapan ogoh-ogoh harus tetap memperhatikan prokes. 

“Teknisnya kecamatan memilih 5 ogoh-ogoh terbaik di desa masing-masing. 5 ogoh-ogoh itu nantinya diberikan dana pembinaan masing-masing 3 juta. Dari total 25 ogoh-ogoh akan dinilai oleh tim kabupaten secara langsung, kemudian dicari 15 terbaik akan diberikan dana kembali sebanyak 5 juta. Dari 15 ogoh-ogoh kemudian dinilai kembali untuk dicari pemenangnya,” terangnya.

Sementara Kapolres Jembrana AKBP I Dewa Gede Juliana menyatakan, telah  berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Majelis Desa Adat Jembrana. Ia meminta keputusan dilaksanakannya lomba ogoh – ogoh itu mesti disikapi dengan baik. Terutama mengindahkan protokol kesehatan mengingat Bali tengah menjadi sorotan. “Apabila lakukan pawai harus mengikuti aturan yang ada. Kreasi seni dapat dilakukan, namun pawai agar dipertimbangkan. Saran untuk kreasi bisa dilaksanakan sedangkan pawai belum bisa ditentukan dan perlu adanya pertimbangan lain / monitor Kabupaten lain, tegas Kapolres.

Hal senada juga disampaikan Dandim 1617 Jembrana Letkol Inf Hasrifudin Haruna. Penekanan Ia sampaikan  bagaimana menyikapi aktivitas masyarakat dan kegiatan  itu nanti , sehingga  tidak  muncul efek negatif menjadi Bom waktu. Kegiatan pawai itu mesti disosialisasikan dengan baik sehingga tidak  merugikan diri  sendiri khususnya di wilayah Kabupaten Jembrana. 

“Memang sudah banyak aturan yang dijelaskan dalam surat Gubernur. Kemudian kita juga di sini sudah ada aturan aturan terkait penanganan Covid-19.  Itu yang mesti disosialisasikan dan dipahami bersama  untuk menjadi PR besarkita harus kita akui bahwa dengan mengecilnya jumlah kasus Covid-19 kini persentase warga masyarakat yang abay akan protokol kesehatan. Harus dicatat Bali akan menjadi lokasi kegiatan internasional tingkat duniajangan sampai dengan kegiatan yang kita rencanakan dengan baik, tapi pada tahap pelaksanaan justru menimbulkan permasalahan yang mengganggu kredibilitas Bali pada umumnya,“ ujar Haruna

Apapun kegiatan yang dilakukan, harap Dandim agar semua patuh pada prokes sebagai kunci utama Jembrana tetap maju walaupun dalam situasi pandemi Covid 19.

Disisi lain, Ketua Majelis Desa Adat Jembrana I Nengah Subagia mengatakan, Dengan dikeluarkannya SE MDA Provinsi Bali  dengan dasar boleh/tidaknya ogoh-ogoh, tidak ada sanksi skala niskala. Selain penerapan aturan dan prokes, penting juga diingat untuk menjaga situasi kondusif dan ketertiban. misalnya jangan sampai ada miras saat mengusung ogoh-ogoh. Demikian juga, ketika ada anggota sekehe ogoh-ogoh yang terjangkit, otomatis pengususngan ogoh-ogoh akan dibatalkan.

Terkait situasi saat ini akan kita putuskan bersama di tingkat Kabupaten. Kita menunggu  apapun keputusan itu akan disampaikan ke bawah. Dalam SE telah disampaikan, dasar acuan dari keputusanpemerintah Kabupaten dan Provinsi. Yang terpenting dalam berkreasi dapat dinilai, namun aktraksi agar dipertimbangkan,“ tandasnya.


TAGS :

Komentar