Kementrian Kesehatan RI Diduga Punya Tunggakan, Dana Jamban Tahap Kedua Belum Cair

Ket poto : Salah satu bantuan jamban sudah selesai di salah satu rumah warga Desa Bantuagung

Baliberkarya.com - Jembrana. Sorotan di media sosial yang terkait ongkos tukang pembangunan jamban sebanyak 15 unit diduga Kementrian Kesehatan RI masih nunggak 30 persen atau sekitar 30 juta. Hal tersebut diutarakan oleh Kepala Desa Batuagung I Nyoman Sudarma saat dikonfirmasi awak media 

"Terkait pembangunan bantuan jamban memang sudah selesai, akan tetapi pihaknya masih mempunyai tunggakan dana ongkos tukang yang belum terbayarkan sampai hari ini. Ongkos tukang belum dibayarkan, dikarenakan dananya masih belum keluar dari Kementrian Kesehatan RI pusat. Kami masih menunggu dana tersebut, agar segera kami bisa bayarkan ongkos tukang," ujarnya, Kamis (29/7/2021).

Desa Batuagung, lanjut Sudarma, mendapatkan bantuan jamban sebanyak 15 unit dimana Desa Batuagung terdapat 9 Banjar Desa Adat. Masing-masing banjar mendapatkan 1 atau 2 unit jamban. hal tersebut diperuntukan warga yang tidak mampu dan belum mempunyai toilet. 

"Ongkos tukang yang belum terbayarkan sebanyak 30 persen lebih jelasnya lagi 30 juta, itu pembayaran tahap ke 2. Dananya belum keluar dari pusat sampai sekarang, saya kasian kepada tukang yang mengerjakan pembangunan jamban tersebut," terangnya.

Sementara itu, Sekdes Desa Batuagung IB Eka Sudiarta mengatakan, untuk anggaran jamban sebanyak 100 juta rupiah. Untuk pencairan dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama pencairan sebanyak 70 persen yaitu 70 juta rupiah diperuntukan hanya bahan bangunan.

"Untuk tahap kedua pencairan sebanyak 30 persen dengan uang sebanyak 30 juta itu belum cair, itu diperuntukan untuk ongkos tukang yang bekerja selama 5 hari. Masing-masing unit ongkos tukang sebanyak 2 juta rupiah, bekerja sebanyak 5 orang, 2 orang tukang dan 3 orang pekerja. Yang tahap pertama dananya sudah masuk ke rekening desa sebanyak 70 juta dari Kementrian Kesehatan RI," ungkapnya.

Lebih jelasnya Eka mengatakan, Saat ini pembangunan tersebut sudah selesai, pihaknya di desa sudah memikirkan dana talangan untuk membayar ongkos tukang tersebut, melalui dana dari Bumdes.

"Hingga beritanya heboh di medsos, kami tidak berani memberikan dana talangan takut dikira ada apa-apanya, jadinya kami hanya bisa menunggu dana tahap kedua cair dari pusat," tututpnya.(BB)


TAGS :

Komentar