Aksi "Ngawen" Marak, Master Pecinta Lingkungan Bersama Mantan Napi Pembabat Hutan "Tebus Dosa" Buat Pokdarwis Ketuk Warga Tanam Satu Pohon

Baliberkarya.com-Jembrana. Saat bertemu dan berbincang dengan wakil rakyat yang dikenal Amanah, Merakyat, Peduli sebagai Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali yang juga Ketua Depidar SOKSI Bali Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) atau yang kerap disapa Gus Adhi, sejumlah warga Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana menyampaikan aksi keprihatinnya terhadap aksi pembabatan atau pembalakan hutan lindung yang kerap di sebut "ngawen" yang sejak lama terjadi di wilayah Kabupaten Jembrana, namun "direstui" dan dibiarkan begitu saja.

Suartawan adalah satu warga Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana yang merupakan mantan narapidana kasus pembalakan hutan atau ilegal logging mengatakan dirinya sebenarnya sangat kecewa dengan aksi pelaku pembalakan hutan yang ternyata lebih hebat dan pintar dari aparat, sampai tidak bisa  ditindak. 

“Tetapi, ini tidak mematahkan semangat kami untuk mengembalikan hutan Manistutu ini lestari,” ucap Suartawan kepada Gus Adhi yang sebelumnya bertugas di Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, kelautan dan perikanan dan kini bertugas di Komisi II DPRD RI ini.

Suartawan pernah dipenjara selama setahun lebih dikarenakan menebang kayu mengaku kini dirinya sadar dan kini menebus dosa dengan kekeliruannya dahulu namun kini berbanding terbalik yang kini sangat getol dan cinta dalam menjaga hutan. 

Dirinya tak sendiri, ia bersama I Ketut Master, yang ikut merintis Pokdarwis Wirawana Pegubugan dan sejumlah warga termasuk muda-mudi di pinggir hutan Manistutu, merintis sejumlah program penghijauan secara swadaya.

"Untuk merintis sejumlah program tersebut, kami mengembangkan melalui Pokdarwis Wirawana Pegubugan dan juga mengembangkan Manistutu Camping Ground (Mantu Cager) di atas Bendungan Benel," jelasnya.

                      Foto: Suartawan

I Ketut Master, yang ikut merintis Pokdarwis Wirawana Pegubugan menyebutkan wisata alam yang dikembangkan ini bukan hanya menikmati keindahan suasana tepian sungai dan hutan di Manistutu semata. Tetapi juga mengetuk para pengunjung wajib ikut memiliki dengan wajib menanam satu pohon.

“Setiap tamu yang datang ke tempat kami, wajib menanam satu pohon. Bukan semata-mata untuk wisata, tetapi juga bagaimana para tamu ikut memiliki hutan Manistutu. Mengajak menghijaukan alam dan kembalikan hutan kami,” terang Master.

Pokdarwis yang mereka rintis, lanjut master, bibit tanaman yang ditentukan Kehutanan, seperti Tangi, Tingkih, Jebugarum, Manggis, Durian, Apokat, Nangka, Aren dan tanaman kayu hasil hutan. Harapannya selain untuk penghijauan, hasil yang pohon yang ditanam itu memiliki manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitar hutan.

                       Foto: I Ketut Master

"Kawasan pinggir hutan yang dikelola ini saat ini tengah ditata tanpa mengesampingkan keasrian. Di samping sebagai upaya menjaga kawasan hutan dan beberapa tempat yang suci di kawasan hulu. Sekitar empat kilo dari lokasi, terdapat Pura Pegubugan yang merupakan titik pertemuan sungai Berangbang dan Manistutu.  Pertemuan sungai di hulu ini terbentuk alami," ungkapnya.

Pihaknya mengaku tidak akan putus asa. Apalagi upaya menghijaukan hutan ini mendapat dukungan dari Bupati Jembrana, Gubernur Bali, Kehutanan KRPH Bali dan kini mendapatkan dukungan penuh pula dari Gus Adhi selaku Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali.

“Kami tidak kapok dan tetap semangat. Kalau dipangkas sepuluh, kita tanam 1000 pohon,” pungkas pria yang juga ahli memodifikasi mobil offroad ini.(BB).


TAGS :

Komentar