Sadar! Dua Mantan Pengikut Aliran Hare Krishna Kini Kembali ke Agama Hindu Dharma

Foto: Jro Pande Alit Arsana (kiri berpakaian adat baju putih) dan Dewi Damayanti (kanan),

Baliberkarya.com-Denpasar. Kontroversi aliran ISKCON atau yang dikenal aliran Hare Krishna (HK) sampai saat terus menjadi sorotan publik. Bahkan belakangan, sejumlah pasraman aliran ISKCON atau Hare Krishna (HK) di wilayah Bali banyak ditutup oleh pihak desa adat setempat.

Seiring waktu sejumlah penganut ajaran ISKCON atau Hare Krishna (HK) sudah banyak yang kembali lagi ke ajaran Agama Hindu Dharma. Salah satunya yakni Jro Pande Alit Arsana yang memberi kesaksian dimana dirinya mengikuti ajaran tersebut berawal dari pembicaraannya bersama dengan Prabu (sebutan tokoh HK pria) dan Mataji (sebutan tokoh HK wanita) memberikan pengaruh. 

Berbagai filsafat-filsafat Hare Krishna dikutif dari Bhagawad Gita versi Prabhupada hingga meyakinkan pihaknya untuk mengikuti setiap ajarannya. Namun, setelah dijalani, Jro Pande mengaku ilmu diajarkan aliran Hare Krishna kepada dirinya mengalami benturan. 

Semakin dalam dirinya memahami filsafat Kitab Bhagawad Gita versi Prabhupada, membuat dirinya sadar. Bahwa banyak ayat - ayat di kitab tersebut dimanipulasi dan justru melenceng dari ajaran Hindu Dharma. Sehingga membuat dirinya berhenti dan memutuskan kembali kepada ajaran leluhur Hindu Dharma Bali.

"Yang di Tuhankan di sana (Hare Krisna/HK atau ISKCON justru pendiri dari ajaran Hare Krishna itu sendiri. Disana disebutkan yang di Tuhankan itu adalahShri Krishna Chaitanya Mahaprabu. Akhirnya saya ketahui itu adalah pendiri dari ISKCON. Bukan Krishna kita tahu dalam kisah Mahabhrata sebagai Awatara," tutur Jro Pande kepada awak media.

Penuturan yang tidak jauh berbeda juga disampaikan Dewi Damayanti yang dulunya penganut ajaran ISKCON atau aliran Hare Krishna (HK) namun akhirnya kini kembali lagi ke ajaran Agama Hindu Dharma, baik secara prilaku lahiriah maupun kerohanian.

Dewi Damayanti, wanita kelahiran Sulawesi tahun 1995 mengaku pada masa kecilnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga penganut aliran Hare Krishna (HK). Menurut Dewi, tahun 2000an di Sulawesi Selatan penyebaran paham aliran Hare Krishna (HK) sangat masif. 

"Dulunya banyak sekali masyarakat tertarik untuk mempelajari dan bergabung Hare Krishna (HK), khususnya umat beragama Hindu Dharma di sana (Sulawesi)," ucapnya.

Seiring waktu konflik pun terjadi, para penganut Hare Krishna(HK) dianggap telah melakukan pelecehan terhadap simbol tradisi Hindu Dharma. Berujung pada aksi penolakan terhadap aliran Hare Krishna (HK) dari umat Hindu Dharma di Sulawesi. Prilaku lahiriahnya pada masa itu disebutkan bertolak belakang dan melewati batas-batas toleransi ajaran Agama Hindu Dharma.

"Mereka itu (pengikut ajaran HK) total menyembah Krishna sebagai Tuhan. Jadi kalau ada tradisi lain, mereka nggak percaya. Waktu itu aku masih kecil, jadi denger dari orang tua. Kalau konfliknya itu dulu awalnya karena mereka (HK) udah mulai mempengaruhi supaya kita untuk tidak lagi menyembah leluhur, kita mecaru dihujat. Hingga pas konflik itu, mulai timbul perpecahan, dan dari situ keluarga saya mulai stop ikut ajaran Hare Krishna (HK)," jelas Dewi Damayanti mengakhiri.(BB).


TAGS :

Komentar