Elektabilitas Demokrat Melesat Tiga Besar, Mudarta Sebut Gerakan "Kudeta" Ingin Menangi Pilpres 2024

Baliberkarya.com-Denpasar. Gerakan terselebung berupa "kudeta" yang sistematis terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terjadi di tengah elektabilitas partai berlambang bintang mercy ini melesat berdasarkan sejumlah lembaga survei yang kredibel.

Gerakan inkonstitusional yang ingin "kudeta" atau mengambil alih paksa kepemimpinan Partai Demokrat terjadi untuk kepentingan Pemilu 2024 lantaran partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini berpeluang kembali berjaya dan meraih kemenangan di Pilpres 2024.

Selain survei elektabilitas Partai Demokrat yang meroket masuk papan atas tiga besar, tanda-tanda alam seperti fenomena "Blue Moon" juga mengarahkan dan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan partai berwarna biru tersebut.

"Pihak-pihak yang ingin membajak Demokrat untuk kepentingan Pilpres 2024. Berdasarkan survei menunjukkan elektabilitas Demokrat terus naik bahkan masuk tiga besar. Apalagi efek fenomena Blue Moon sudah nyata terjadi di Amerika Serikat, dimana partai biru kembali berkuasa," kata Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali Made Mudarta saat ditemui di Denpasar, Selasa (2/2/2021).

Berdasarkan paparan sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas Partai Demokrat yang berstatus sebagai oposisi pemerintah (tidak masuk dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi) terus berkibar bahkan kini masuk tiga besar di bawah PDI Perjuangan dan Golkar.

Dari hasil survei dari Indonesia Development Monitoring (IDM) tentang elektabilitas partai politik di Indonesia menyebutkan elektabilitas Partai Demokrat meroket ke tempat ketiga dengan perolehan 11,6 persen. 

"Temuan beberapa lembaga survei, LKPI, IDM, Roda Tiga, Demokrat masuk papan atas tiga besar. Ini bentuk apresiasi rakyat pada Demokrat sebagai partai cerdas, bersih santun, punya kemampuan cetak legislatif dan eksekutif. Ini bukti Demokrat makin dicintai rakyat," tegas Mudarta.

Pengusaha sukses asal "Bumi Mekepung" Jembrana itu menyampaikan tanda-tanda kembalinya kejayaan Partai Demokrat juga dikaitkan dengan adanya fenomena "Blue Moon" dan kemenangan Partai Demokrat di Pilpres Amerika Serikat.

Lebih jauh Mudarta menyinggung tanda-tanda alam bagi kebangkitan Partai Demokrat terkait fenomena "Blue Moon" ini. Ia bercerita pada 31 Oktober 2020 lalu ada fenomena alam "Blue Moon" (Bulan Biru) yakni cahaya bulan biru yang hanya terjadi setiap 19 tahun sekali.

Dengan adanya fenomena alam "Blue Moon" khusus bulan Oktober 2020 terjadi bulan purnama sebanyak dua kali yakni pada 2 Oktober 2020 dan 31 Oktober 2020 yang juga bertepatan dengan peringatan Halloween.

Seperti diketahui fenomena bulan purnama biru terjadi Sabtu malam, 31 Oktober 2020. Fenomena ini tepatnya disebut bulan biru mikro yang sangat jarang terjadi. Fenomena ini terakhir kali terjadi pada 30 April 1999 dan akan kembali hadir pada 31 Mei 2026.

Bagi Mudarta, dengan adanya "Blue Moon" yang hanya terjadi 19 tahun sekali, makna spiritualnya partai politik berwarna biru seperti Partai Demokrat trendnya naik.

"Fenomena Blue Moon ini kejadian langka, tanda partai politik warna biru cerah, buktinya partai Demokrat di AS menang Pilpres, menangi Kongres, dan Senat," jelas politisi senior Partai Demokrat.

Dengan berbagai hal tersebut, Mudarta memandang Partai Demokrat dinilai partai politik yang seksi dan berpeluang memenangi Pileg dan Pilpres 2024. Terlebih fakta sejarah menunjukkan kepemimpinan Partai Demokrat selama 10 tahun ketika SBY menjabat presiden dua periode memberikan kepuasan dan kesejahteraan kepada rakyat.

Fakta menarik juga Demokrat didirikan tahun 2001 dan walau baru seumur jagung Demokrat yang mengusung Ketua Umum Partai Demokrat SBY sebagai Capres memenangi Pilpres tahun 2004 sehingga mengantar SBY sebagai presiden ke-enam RI. Kejayaan Demokrat makin terlihat di 2009 dengan memenangi Pileg dan Pilpres sehingga SBY dua periode (10 tahun) memimpin Indonesia sebagai presiden.

Tahun 2024 artinya adalah 20 tahun sejak Partai Demokrat pertama kali berkuasa dan membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Tahun 2024 ini pun dianggap bisa menjadi siklus 20 tahun kembalinya kejayaan Demokrat dan terkait dengan fenomena "Blue Moon" yang juga hanya terjadi tiap 19 hingga 20 tahun sekali.

Foto: Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali Made Mudarta.

"Banyak pihak pahami 2024 Demokrat bisa menang pemilu. Jadi ada pihak yang ingin merebut, mengkudeta, membajak di tengah jalan dengan cara-cara inkonstitusional untuk kepentingan Pilpres dan Pileg 2024. Gerakan ambil alih Partai Demokrat benar adanya karena Demokrat dianggap partai seksi," sentil Mudarta.

Meaki kini ada tantangan dan badai upaya kudeta terhadap kepemimpinan AHY, Mudarta melihat Demokrat tetap solid setia kepada kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat AHY dan Ketua MTP (Majelis Tinggi Partai) Demokrat SBY.

"Demokrat tetap kuat, kompak walau diterpa badai. Bersama Kita Kuat, Bersatu Kita Bangkit ," tegas Mudarta kembali.

Mudarta juga menegaskan tetap setia kepada Ketua Umum Partai Demokrat AHY di tengah ada upaya pihak tertentu untuk melakukan "kudeta" terhadap kepemimpinan AHY.

Bahkan Mudarta menegaskan Demokrat Bali siap melawan upaya kudeta dan upaya merongrong marwah partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

"Bali siap Puputan bersama AHY dan SBY menjaga marwah Partai Demokrat," ucap Mudarta.

Ketua DPD Demokrat Bali telah mengirimkan surat kesetiaan dan kebulatan tekad kepada Ketua Umum Demokrat AHY tertanggal 29 Januari 2021. 

"Demokrat Bali kompak, solid, konsisten kawal kepemimpinan AHY sesuai hasil Kongres. Demokrat Bali akan melawan pihak manapun yang ingin ganggu marwah, kehormatan dan ketenangan Partai Demokrat," terang Mudarta.

Sebelumnya, pernyataan cukup mengejutkan publik disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) usai menggelar commanders call atau rapat pimpinan khusus bersama para pimpinan DPD dan DPC partai secara virtual, Senin (1/2/2021)

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membeberkan adanya gerakan upaya merebut paksa Partai Demokrat melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Bahkan, gerakan untuk mengambil partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Presiden ke-enam RI ini disebut-sebut sudah mendapatkan dukungan dari sejumlah menteri dan pejabat penting di pemerintahan Presiden Jokowi.(BB).


TAGS :

Komentar