Mih Dewa Ratu! KM BS Suarakan Nyanyian Tokoh dari Balik Jeruji, Harga Ipat dan Winasa Hampir Empat Milyar

Ket poto : Pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Jembrana I Nengah Tamba dan Patriana Krisna (Ipat) 

Baliberkarya.com-Jembrana. Pilkada Jembrana sudah semakin dekat. PDIP belum juga resmikan calonnya. Namun suasana mulai memanas. Pemicunya diduga nyanyian tokoh dari balik jeruji.

Belum lagi pendaftaran calon yang bertarung di Pilkada Jembrana oleh KPU dibuka, suhu politik di bumi makepung mulai memanas. Saling serang di medsos antara dua kubu semakin rame. Ada yang terang-terangan namun ada yang menggunakan akun palsu.

Teranyar justru terbongkar 'Nyanyian' orang besar dari balik jeruji yang mengisyaratkan Pilkada Jembrana sebagai ajang mencari keuntungan materil semata dengan bermodalkan nama besar.

Nyanyian sumbang sang tokoh dari balik jeruji dan jika benar petaka besar buat demokrasi di Jembrana justru dihembuskan oleh tokoh pengusaha yang juga tim pemenangan salah satu pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati dari Koalisi Jembrana Maju (KJM).

KM BS (nama asli ada di redaksi) melalui sambungan telpon dengan redaksi menyebutkan, dirinya sekitar sebulan lalu pernah datang ke LP Negara untuk bertemu dengan mantan Bupati Jembrana I Gede Winasa yang sedang menjalani hukuman pidana.

"Saat itu saya datang berdua sebagai wakil dari tim salah satu bakal calon Bupati Jembrana. Saya bertemu langsung Pak Winasa sekitar sepuluh sampai lima belas menit," tuturnya, Jumat (14/8/2020).

Tujuan dirinya menemui Winasa hanya untuk menanyakan keseriusan Patriana Krisna (Ipat) menjadi calon Wakil Bupati dalam Pilkada Jembrana. Mengingat dirinya tidak melihat keseriusan Ipat maju sebagai calon wakil bupati, terbukti masih menjadi PNS aktif.

"Sementara Made Prihenjagat juga anggota Polri tapi beliau telah mundur dari anggota Polri sebagai bentuk keseriusannya maju menjadi calon. Sementara ipat hingga saat ini masih jadi ASN," imbuhnya.

Pertanyaan tersebut menurut KM BS dipertanyakan kepada Winasa dengan disaksikan satu orang temannya dan petugas LP. Winasa saat itu menyampaikan dengan tegas bahwa Ipat, anaknya sangat serius untuk maju menjadi calon wakil bupati.

Namun menurut KM BS, Winasa mengatakan siapa saja yang meminang anaknya (Ipat) untuk menjadi calon bupati, harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan oleh Winasa.

Syarat pertama yang diberikan Winasa menurut KM BS adalah wajib memberikan konvensasi Rp 1,4 milyar karena masa dinas Ipat sebagai ASN masih 14 tahun. 

Syarat kedua adalah, Winasa harus menjadi ketua tim pemenangan untuk anaknya dengan bayaran (honor) sama saat menjadi tim pemenangan Made Mangku Pastika, sebesar Rp 700 juta per dua minggu.

"Untuk syarat ini, jika saya hitung-hitung selama putaran Pilkada jadi totalnya dua milyar seratus juta rupiah. Sebuah angka yang sangat fantastik," imbuhnya.

Kemudian lanjut KM BS, syarat yang ketiga yang diberikan Winasa adalah anaknya Ipat tidak akan mengeluarkan biaya atau cos politik sepeserpun dalam Pilkada.

"Kemudian syarat yang keempat adalah seluruh uang tersebut harus sudah diserahkan kepada Winasa paling lambat satu hari sebelum penetapan calon," terang KM BS.

Penjelasan Winasa tersebut menurut KM BS dia dengar langsung saat datang menemui Winasa di LP Negara sekitar sebulan lalu. Syarat tersebut berlaku baik itu kepada Made Prihenjagat yang menginginkan Ipat jadi wakilnya ataupun kepada Nengah Tamba jika menginginkan Ipat jadi wakil.

"Karena syarat yang diberikan Winasa sangat tidak masuk akal dan sudah monay politik, saya sampaikan kepada tim lain dan keputusan mundur meminang Ipat. Namun akhirnya Tamba berpasangan dengan Ipat dan saya yakin syarat dari Winasa itu berlaku buat Tamba," tegasnya.

Hasil pertemuan dengan Winasa tersebut menurut KM BS disanpaikan kepada Koalisi Jembrana Maju (KJM) untuk evaluasi dan dasar dari KJM untuk mengeluarkan keputusan ataupun mengeluarkan rekomendasi.

Dengan syarat tersebut KM BS secara pribadi tidak melihat keseriusan dari Ipat untuk maju di Pilkada Jembrana, melainkan ada motif untuk mencari keuntungan materi. Hal ini hendaknya menjadi catatan bagi KJM untuk mengambil keputusan, siapa sebenarnya yang lebih tepat diberikan rekomendasi.

"Saya pribadi tidak ingin nantinya berhenti di tengah jalan sebelum pertarungan dimulai. Karena saya justru mencium aroma blolong disini," katanya.

KM BS mengaku apa yang disampaikannya adalah yang sesungguhnya dia dengar sendiri dari Winasa saat bertemu di LP, tidak ditambah dan tidak dikurangi, untuk catatan KJM dalam mengambil keputusan.

Terkait hal tersebut, Mantan Bupati Jembrana dua Preode I Gede Winasa yang saat ini sedang menjalani hukuman pidana di LP Negara belum bisa dikonfirmasi.(BB)

 

 


TAGS :

Komentar