Edhy Prabowo: Wisatawan Tidak Akan Nyaman Tanpa Ada Ikan 

Mentri Kelautan dan Perikanan Poto bersama denga Warga Nelayan di pengambengan

Baliberkarya.com Jembrana - Ada wisatawan, tapi tanpa ikan, saya yakin tidak ada wisatawan yang nyaman ditempat tanpa ada ikan, jangan pernah tinggalkan ikan, saya sangat yakin hanya perlu penataan. Kalau kita mau rapikan, ya semua akan rapi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Edhy Prabowo, M.M., M.B.A saat kunjungan kerja di wilayah Jembrana yang di dampingi oleh Dirjen PSDKP, Staf Ahli, Staf Khusus Kementrian. Kamis (13/8)

Kegiatan kunjungan kerja Kementrian Kelautan dan Perikanan ke Jembrana juga di hadiri oleh Bupati Jembrana di wakili oleh Asisten I Jembrana Drs. I Nengah Ledang, Dandim 1617/Jembrana Letkol Inf. Hasrifuddin Haruna, S.Sos, Kapolres Jembrana di wakili oleh Waka Polres Jembrana Kompol IB Dedi Januartha, SH, MH.

Dalam kegiatan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan langsung meninjau PPN Pengambengan dan tetap memakai protokol kesehatan, melihat langsung proses penurunan ikan dari kapal dan penimbangan ikan hasil tangkapan serta berdialogis dengan para nelayan.

"Jembatan masih perlu di perbaiki, dalam 5 tahun ini memang belum ada perbaikan, nanti saya akan komunikasikan dengan berbagai pihak agar segera di perbaiki, dan nelayan melakukan pembongkaran ikan dengan situasi seperti ini, ini tidak bener, sangat kurang layak nanti kita rapikan," ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Probowo,

Pelabuhan pengambengan ini merupakan potensi yang besar yang menyediakan ikan untuk bahan pengalengan, terutama  untuk dijawa, di Banyuwangi khususnya, kebutuhan sangat besar, disana kebutuhan bahan bakunya juga sangat murah.

"Menurut informasi dari Kepala pelabuhan dari laporan per hari ini, mendapatkan 400 ton itu sudah melebihi dari pada kebutuhan lokal sini, jadi artinya potensinya besar belum sampai ke pasar yang benar, nanti kita akan sambungkan produksi ini ke Jawa disana banyak membutuhkan," tegasnya.

Ia melanjutkan, tadi ada pengakuan-pengakuan dari masyarakat terkait ijin yang sebenarnya belum terakomodir, makanya kita perlu turun ke lapangan, saya harapkan komunikasi dari bawah sampai keatas terus berkelanjutan jangan berhenti.

Sementara terkait untuk pelabuhan Benoa, pelabuhan Pengambengan tetap menjadi sentral Pengambengan dan Benoa tetap menjadi sentral di Benoa, jangan pernah memisahkan setiap bidang di Indonesia ini, pada hakekatnya semua bidang ini ada terkaitannya.

"Ada wisatawan, tapi tanpa ikan, saya yakin tidak ada wisatawan yang nyaman ditempat tanpa ada ikan, jangan pernah tinggalkan ikan, saya sangat yakin hanya perlu penataan. Kalau kita mau rapikan ya semua akan rapi," jelasnya.

Pihaknya mengakui nelayan-nelayan ini sangat mau untuk diatur, sekarang tergantung kita mau ngak memberikan kepastian kepada mereka ketersediaan bahan bakarnya, airnya, kemampuan kita menangkap hasil produksi mereka, mereka ini kerja sehari bisa dapat 15 ton ikan 3 sampai 15 ton saya kira ini potensi besar apalagi disaat sekarang negara butuh produktivitas dari warganya. 

"Bisa dibayangkan seluruh nelayan di bali tidak bekerja mandek sudah habis, wisata hilang ekonomi tambah rusak, hal-hal seperti ini sebenarnya kita dorong semua,  mereka semangat sekali kerja dan perlu jalan keluar, saya bersukur bisa datang kesini ternyata masih banyak perlu diperbaiki," ucapnya.

Lebih jelasnya Edhy mengatakan, selama aturan itu tidak menyengsarakan rakyat selama masyarakat dapat jalan keluarnya kita juga tidak usah ragu.

Kemudian rombongan Kementrian langsung menuju Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana meninjau lokasi dan menebar benih benur udang pada tambak Politeknik dan menerima penjelasan terkait data panen tambak Busmetik dan Butamira.

Sehabis beristirakat makan siang Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Edhy Prabowo, M.M., M.B.A beserta rombongan menuju Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROL) Jembrana, dan langsung meninjau Radar Barata (Balai Radar Ground Receiving Station).

Acara terakhir Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Edhy Prabowo, M.M., M.B.A mengadakan pres conference dan poto bersama.

"Terkait keberadaan Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROL) Jembrana sangat maju dengan teknologi yang sudah memadai, ini bisa menjaga sektor kelautan kita," ucap Edhy Prabowo dalam press conference didampingi oleh Kepala BROL Jembrana Dr. I Nyoman Rudiarta, M.Sc.

Edhy Prabowo melanjutkan, Disinilah kita menghasilkan langkah maju kedepan untuk bisa mendahului pencuri-pencuri ikan, mendeteksi kebocoran minyak serta mendeteksi sampah-sampah di laut dan kita perlu tingkatkan lagi kedepan. 

Lain dari pada itu kita juga bisa melihat kegiatan-kegiatan ditengah laut kita, sehingga kita bisa lebih cepat penanganan di laut dan juga fungsi dari BROL ini juga menjaga hutan mangrove yang ada di Jembrana.

"Terkait hasil produksi ikan di Jembrana informasi dari ketua nelayan tadi hasilnya sangat bagus, tapi faktor pendukung tidak memadai, selama ini kita belum banyak membantu dan saya akan perjuangkan itu," ungkapnya. 

BPN Jembrana menjadi kunci setelah moderenisasi di Benoa dan disana nanti menjadi kawasan dikhususkan untuk tuna.

"Kedepan saya mempunyai rencana kapal yang sudah disita negara, saya tidak tenggelamkan, untuk menenggelamkan atau memusnahkan dengan membakar kapal, itu akan memerlukan banyak biaya, kedepan rencananya kapal tersebut kita berikan kepada perguruan tinggi dan sekolah perikanan agar mereka mempunyai kapal api," pungkasnya.

Lebih jelasnya Edhy Prabowo mengatakan, perlu diketahui anak-anak kita di lapangan sangat semangat sekali menjaga perairan Indonesia ini, kemarin tanggal 10 kita menangkap kapal tiga kapal lagi yang jumlahnya hampir 100 ton, disini saya sudah kirim surat dan kordinasi dengan Menkeu kemana akan kita arahankan kapal tersebut, sudah ada 14 perguruan tinggi yang melihat langsung kapal yang kita sita dan nantinya kita serahkan

"Selama itu merupakan dari bagian negara, tidak perlu dimulai kita serahkan langsung, dan ini saya masih pikirkan," tutup Edhy Prabowo dan dilanjutkan dengan poto bersama. (BB)


TAGS :

Komentar