Sungguh Miris! Hidup Sendiri di Rumah Kecil dan Bocor, Luh Arningsih Pasrah Hidup dari Jual Tamas

Ket Poto : Luh Arningsih, KK miskin di Jembrana hidup memperihatinkan

Baliberkarya.com-Jembrana. Kulitnya keriput, tubuhnya agak kurus dan rambutnya yang sebagian besar memutih serta wajahnya terlihat lesu, merupakan gambaran kerasnya kehidupan yang dijalaninya.

Tinggal sendiri di rumah tak layak huni dan kondisi rusak serta bocor di sana sini juga pengap memperjelas kondisi yang dialami oleh Luh Arningsih, sangat memperihatinkan.

Warga Lingkungan Bilukpoh Kauh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali ini sejak berpuluh tahun hanya bisa memcari sesuap nasi untuk bertahan hidup.

Sementara untuk menabung dan memperbaiki rumah kecil berlantai tanah ini, sudah tidak mungkin dia lakukan. Maklumnya dia hanya seorang perempuan tanpa pendamping suami dan anak-anak. Dia berjuang sendiri, tanpa mengharap belas kasihan tetangga dan saudara.

Pada 1 Desember 2020 mendatang dia mengaku genap berusia 68 tahun. Namun jika dilihat dari raut wajah dan perawakan, wanita yang tidak pernah menikah dalam hidupnya ini seperti berusia diatas 70 tahunan. Mungkin karena beratnya perjuanagan hidup membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

"Saya memang tidak pernah menikah, tapi saya pernah disakiti laki-laki yang saya sayang. Laki-laki itu pergi meninggalkan saya setelah menanamkan benih di rahim saya," tuturnya polos dalam bahasa Bali saat redaksi menemui di rumahnya, Senin (10/8/2020).

Semenjak ditinggal laki-laki yang dia sayang, Luh Arningsih tinggal sendiri, menumpang ditanah milik adik kandung ibunya yang berlokasi di Lingkungan Bilukpoh Kauh, Kelurahan Tegalcangkring, Mendoyo.

Lewat bantuan kerabatnya, dia berhasil memiliki rumah kecil berukuran 3x5, berdingding bata dan beralas tanah. Rumah kecil yang sangat sederhana tersebut sebaggi tempatnya berteduh, sambil membesarkan janin dalam kandungannya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, dia tidak mau berpangku tangan ataupun mengharap belas kasihan tetangga dan kerabat. Dia memilih membuat jejahitan (sarana sembahyang umat Hindu) berupa tamas dari daun kelapa tua (hijau).

Tiap hari hanya itu pekerjaan yang dia jalani. Awalnya dia kerjakan sendiri. Sehari bisa menghasilkan 100 biji tamas. Tamas ini kemudian dia jual kepada pengepul dengan harga Rp 17 ribu per 50 biji. Jika sehari dia bisa menghasilkan tamas 100 biji, berarti dia bisa menerima uang Rp 34 ribu. Uang itu cukup baginya untuk membeli beras dan keperluan lainnya.

"Hasil tiga puluh empat ribu rupiah itu masih harus dipotong lagi modal membeli daun kelapa karena saya tidak bisa manjat pohon kelapa dan juga tidak punya kebun kelapa," ujarnya lirih.

Hanya itu yang bisa dia lakukan sehari-harinya untuk menyambung hidup. Hingga akhirnya dia melahirkan anak perempuan, pekerjaan sebagai tukang pembuat tamas terus belanjut. 

Seiring berjalannya waktu, anak gadisnya beranjak dewasa dan akhirnya harus meninggalkan dirinya karena menikah dengan pemuda asal Jawa Timur. Tinggalah dia seorang diri di rumah tua yang munggil dan pengap.

Rumah berukuran 3x5 meter berdinding bata usang dan berlantai tanah, beratap genting yang telah bocor di sana sini, hanya ada satu kamar dan satu emperan untuk tunggu dapur dari kayu bakar.

Dalam kamar tanpa fentilasi, disamping untuk tidur, juga untuk menyimpan kerajinan tamas yang belum laku di jual. Bahkan belakangan sejak hampir dua bulan dagangan kerajinan tamas sama sekali tidak laku, sehingga dia menyimpannya sampai di emparan depan rumahnya.

"Ini sudah hampir dua bulan satupun tidak laku terjual. Itu lihat pak sampai menumpuk di dalam rumah dan di luar. Katanya gara-gara corona sepi pembeli," tuturnya.

Lantaran tidak laku terjual, untuk makan sehari-hari terpaksa dia minta ke adik laki-lakinya yang juga hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang jika adinya tidak punya rejeki lebih, dia terpaksa menjual ayam-ayam peliharaannya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau terus-terusan minta di adik saya malu, lagian adik saya juga punya keluarga dan penghasilannya juga pas-pasan," imbuhnya.

Dia juga mengaku selama ini tidak pernah menerima bantuan apa-apa dari pemerintah. Kecuali bantuan dari Bendesa Adat setempat terkait pandemi covid 19, berupa paket sembako. Itupun hanya sekali dia menerima bantuan tersebut.

"Mungkin karena saya masuk ke KK adik saya makanya saya belum pernah menerima bantuan apa-apa. Padahal saya tinggal terpisah dengan adik dan tidak mungkin juga saya tinggal sama adik, kasihan adik karena dia juga hidup pas-pasan," katanya sambil membuat kerajinan tamas.

Sebenarnya dia berharap bisa memperbaiki rumah, sehingga saat hujan tidak bocor. Selama ini jika hujan dia mengaku terpaksa menginap di rumah tetangga lantaran rumahnya bocor di sana-sini.

"Ya, mudah-mudahan saja ada yang berbaik hati membantu memperbaiki rumah saya agar tidak bocor," tutupnya.(BB)

 

 


TAGS :

Komentar