Berkat Konser Amal Online, Devillas Band Dapat Job Manggung di Kapal Pesiar dan Negara Tiga Benua

Foto: Putu Suciawan Devillas Band

Baliberkarya.com-Nusa Penida. Siapa bilang seorang mantan narapidana tidak bisa "move on" berkarya. Buktinya, Putu Suciawan mantan narapidana justru kini "bertransformasi" menjadi seorang pengusaha pariwisata dan musisi.

Hebatnya, Putu Suciawan yang dikenal bertangan dingin urusan karya seni musik ini baru beberapa bulan menginisiasi lahirnya Band Devillas yang beranggotakan musisi muda dan anak-anak band yang terdampak pandemi Covid-19 kini mendapat berkah.

Bagaimana tidak, Putu Suciawan dengan Devillas Band kini justru mendapat sejumlah tawaran untuk tampil manggung membawakan lagu karya-karyannya hingga ke kapal pesiar mewah dan sejumlah negara di luar negeri.

"Sejauh ini kami dapat tawaran tampil di kapal pesiar dan tiga negara untuk membawakan lagu-lagu original kami baik yang berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia," ucap Putu Suciawan, saat bercerita tentang agenda Devillas ke depan.

Pria yang juga sebagai manajer di salah satu villa dan restoran di Nusa Penida ini menyampaikan Devillas dapat kontrak tampil di salah satu kapal pesiar yang berlayar dari Singapura menuju Australia melewati Indonesia. Kapal pesiar ini rencananya bersandar di Pelabuhan Benoa untuk juga mengisi logistik menuju ke Australia. Devillas diperkirakan akan tampil di atas kapal pesiar ini pada Juli 2020. 

"Kami kebetulan diundang oleh pemilik kapal pesiarnya. Kebetulan juga ada investor di kapal pesiar ini yang mau berinvestasi di Nusa Penida. Jadi kami sambil juga promosikan pariwisata Bali khususnya Nusa Penida," ungkap Putu Suciawan.

Yang lebih membanggakan, Devillas juga diundang ke Australia untuk bisa bermain musik di "negeri kangguru" selama sebulan penuh. Di Belanda (Europa) Devillas juga sudah disiapkan tempat untuk menggelar semacam konser. Selain itu, tawaran datang pula dari seorang produser musik dari Amerika Serikat tepatnya dari Hollywood.

"Ada teman yang ngundang kami untuk main di Australia selama sebulan, diperkirakan sekitar bulan Desember 2020 ini atau Februari 2021," tutur Putu Suciawan yang berperan sebagai vokalis di Devillas Band.

"Kebetulan kami juga dapat tawaran dari produser luar, dia akan membiayai kami berangkat ke negaranya di Amerika Serikat. Dia tinggal di Hollywood dan sudah donasikan dana ke kami sekitar Rp 10 juta hanya sekadar untuk kami menyambung hidup disini saat pandemi," imbuh Putu Suciawan.

Terkait tawaran itu, Devillas tentu sangat antusias menyikapi berbagai tawaran dan akan mempersiapkan penampilan terbaik untuk karya-karya mereka. Melihat peluang yang ada, Devillas bahkan bercita-cita agar bisa berkarya di luar negeri menjadi band profesional atau bahkan bisa go internasional.

"Arahnya Devillas memang ingin jadi band profesional dan bisa juga berkarya di luar negeri," jelas Putu Suciawan.

Untuk diketahui, sejak baru terbentuk kurang dari empat bulan saat awal pandemi Covid-19, Devillas lebih banyak menggelar konser secara virtual atau online dengan mengunggah video musik mereka di akun YouTube De Villas (Putu Studio). Bersama band Devillas, Putu Suciawan menggelar konser amal (social concert) lewat beberapa video yang diunggah di akun YouTube Putu Studio. 

Sampai saat ini, ada belasan video yang diunggah dengan mendapatkan views (ditonton) hingga ratusan ribu kali. Lalu video ini mendapatkan pemasukan dari iklan dan hasilnya digunakan Suciawan kegiatan sosial membantu masyarakat di Nusa Penida dimasa pandemi Covid-19. Salah satunya juga dibelikan bibit tanaman cabai dan sembako untuk disumbangkan kepada petani di Nusa Penida.

Nah dari video konser amal atau social concert inilah perlahan Devillas mulai dikenal hingga ke pendengar dan pecinta musik mancanegara hingga sejumlah produsen musik termasuk juga mendapatkan apresiasi dan respon positif dari banyak investor kenalan Putu Suciawan. Hingga akhirnya kini mendapat tawaran manggung di kapal pesiar dan tiga negara di tiga benua seperti saat ini.

Bersama Devilla Putu Suciawan merilis ulang karya lagu dan video klip berjudul "Aku Harus Pulang." Karya ini menceritakan penyesalannya saat masih menyandang status sebagai seorang narapidana yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dipenjara di dalam Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Singaraja. 

Lirik lagu yang sangat menyentuh ini mengilustrasikan penyesalan dan kerinduan seorang narapidana untuk kembali kepada keluarga, pulang ke rumahnya dan kembali berbaur di tengah-tengah masyarakat.

Lagu ini merupakan kisah nyata dari mantan vokalis, seorang mantan penjahat yang kini telah berhasil mengubah hidupnya menjadi arah yang sangat positif. "Saya ingin berbagi kisah dan pesan lewat lagu ini bahwa seorang narapidana dan mantan narapidana bisa berubah menjadi lebih baik, melakukan hal positif bahkan bisa menginspirasi," tutur Putu Suciawan.

Sebelumnya juga telah dibuat video klip "Aku Harus Pulang" ini saat Putu Suciawan masih berada di dalam Lapas. Namun karena di dalam Lapas ada keterbatasan alat, sekarang aransemen dan video klipnya dibuat ulang bersama band Devillas yang baru saja dibentuk Putu Suciawan dengan merangkul anak-anak band dan pecinta musik yang terdampak pandemi Covid-19.

Dasyatnya, video klip baru ini dibuat hanya dalam waktu dua hari bersama band Devillas pada pertengahan Juni 2020 dan jadilah konsep video klip seperti sekarang yang bisa disaksikan di Channel YouTube Putu Studio. Luar biasanya lagi, lagu ini diciptakan sekitar bulan September 2018 saat Putu Setiawan berada di Lapas Singaraja, setelah sebelumnya dipindahkan dari Rutan Gianyar ke Lapas Singaraja ini. 

Saat itu Kalapas Singaraja dalam suatu kesempatan memanggil Putu Suciawan karena diketahui dirinya bisa bermain musik dan bernyanyi. Kemudian oleh Kalapas, Putu Suciawan diberikan fasilitas untuk membuat semacam studio di dalam lapas. Singkat cerita, terciptalah lagu "Aku Harus Pulang" ini dari dalam lapas.

"Saya menciptakan lagu ini saat saya mendidik anak-anak (penghuni) di dalam lapas untuk bermain musik," kenang Putu Suciawan.

Lagu "Aku Harus Pulang" karya Putu Suciawan di Lapas Singaraja kini dijadikan semacam lagu wajib dan jingle ketika ada berbagai acara di Lapas ini. "Waktu saya masih di lapas, saya dan teman-teman juga sering disuruh konser di luar kalau ada acara," kenang pria asal Desa Sepang, Buleleng itu mengakhiri kisahnya.(BB).


TAGS :

Komentar