Merajut Asa 'Yuk Normal!', Ditengah Pandemi

Baliberkarya

Baliberkarya.com-Denpasar. Berawal dari Februari akhir yang buruk, menerima kabar corona mulai masuk ke bumi Indonesia. Sebagai seorang jurnalis dan sebagai warga biasa saya merasakan kegalauan akan penyebaran penyakit corona atau dikenal sekarang corona virus atau covid19 karena corona menyebabkan kematian. Dimulai dari galau tingkat tinggi saya pun sadar bahwa saya harus bangkit dan menata kembali kehidupan kami yang terpuruk.

BACA JUGA : Jadi "Rumah Rakyat", Kantor Golkar Bali Kini Makin Rindang Dihiasi Berbagai Jenis Tanaman

Terpuruk ekonomi jelas, terpuruk mental dan kondisi fisik juga iya. Sampai sekarang saya sendiri bersyukur masih jauh dari jenis penyakit yang membuat banyak orang khawatir bahkan takut ini. Mengapa, orang sampai takut akan penyakit ini? Berdasarkan pengalaman saya dan pantauan di lapangan orang menjadi takut bukan karena mereka akan sakit terkena virus corona, diduga warga takut keluarganya akan meninggal karena corona. Yang saya takutkan suami saya yang PMI meninggal di rantau orang negeri orang. Oh tidak, tidak ada dalam bayangan saya. Apakah ketakutan seperti saya hanya saya yang mengalami?  

Ketakutan itu yang menjadikan momok bagi saya sendiri. Kini saya harus bangkit merajut asa memberikan aura positif kepada sesama manusia untuk kembali ke new normal (kenormalan baru). Bahkan saya ingin kalau perlu tidak 'new normal tapi kembali normal' (back to normal). 

Bagaimana saya membangun rasa positif yang tinggi bahwa penyakit ini bisa hilang. Padahal saya sendiri tidak yakin, namun keyakinan itu muncul atau bisa dibangun oleh diri kita sendiri. 

Kembali ke masjid bagi kaum muslimin, ke gereja bagi umat Kristiani, ke pura dan lain sebagainya. Dari pengalaman saya dan kesadaran saya yang tinggi ingin hidup normal atau sekarang disebut 'new normal' (kenormalan baru), dimana setiap warga masyarakat diharapkan bisa melewati fase ini. 
  
Jika kita perang melawan corona pasti kita akan kalah, karena kita melawan virus akan tetapi kita harus melawan dengan menjadi sesuatu, setidaknya kita berbuat sesuatu jangan jauh-jauh untuk bangsa dan negara kamu tapi dimulai untuk diri kamu sendiri yaitu masyarakat kecil yakni keluarga. Jadilah seseorang dalam keluarga kamu, saya mengajak anda semua menjadi seorang relawan di keluarga kecil kamu?    

BACA JUGA : Bali Tak Masuk, Pemerintah Restui 102 Wilayah Laksanakan Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19
 
Ajakan kembali ke aktivitas normal mungkin diangggap konyol bagi sebagian orang. Saya pribadi mengajak setiap orang yang merasa sudah normal pikirannya untuk kembali ke kehidupan normal. Yuk Normal! Kembali ke kehidupan yang lama beraktivitas lagi dan semua kembali seperti dulu tentu dengan melaksanakan protokol kesehatan ketat seperti yang digaungkan pemerintah.   
 
Saya tidak akan merinci apapun data itu saya tidak perlu saya tulis disini karena semua kalian sudah tahu berapa angka positif corona anda semua sudah tau. Saat ini data nasional jumlah orang positif corona akan menuju angka 30 ribu tentu angka yang sedikit karena Indonesia adalah negara yang berpenduduk sekitar 250 juta jiwa. Di Bali sendiri untuk positif sekitar 465 orang menurut data BNPB Minggu (31/05). Catatan, kasus di Bali masih didominasi imported case dan transmisi lokal yang tinggi hal ini dikarenakan masyarakat masih sedikit yang melakukan PHBS, sementara imported case berasal dari PMI.

Ketakutan dan teror menjadikan penyakit ini berbahaya dan minim sembuh, namun terbukti banyak yang sembuh. Saya termasuk orang yang berpikir masih banyak penyakit jahat diluar sana yang ada disekitar kehidupan anda. Penyakit berbahaya tidak hanya corona jadi hilangkan stigma bahwa ini penyakit tidak akan hilang. Jika kita berpikiran positif, saya yakin penyakit ini bisa dikendalikan oleh manusia. Ingatlah diatas corona masih ada Tuhan/Allah yang Maha Tau, Maha SegalaNya.

Pemerintah Indonesia melalui Satuan Gugus Tugas Nasional Penanganan Covid19 telah gencar melakukan sosialisasi agar masyarakat hidup menganut PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 21 detik, apabila bersin tutup pakai tisue atau tangan, buang tisue bekas, gunakan masker, social distancing (menghindari kerumunan), physical distancing (jaga jarak), dan tetap diam di rumah.     

Apabila semua itu diterapkan dalam kegiatan kehidupan di masyarakat saya yakin pandemi ini akan berakhir dan kita akan menang. Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini, keyakinan kuat hanya dimiliki bagi orang yang berpikiran positif. Itulah yang selalu saya tekankan jika saya berjumpa dengan masyarakat yang mengeluh akan krisis pandemi.  
  
Masih ada sedikit asa ditengah pandemi, masih ada kekuatan keyakinan jika diatas langit masih ada langit. Maka pandemi ini pasti akan hilang seiring berjalannya waktu.  

BACA JUGA : Satu Warga Desa Dauh Puri Kelod Dinyatakan Positif Covid-19 Efek "Transmisi Lokal"


    

Sebagai jurnalis yang juga relawan di organisasi PYP (Peduli Yatim Piatu) yang dimotori Komang Edi selaku koordinator, saya tergolong baru bergabung, masih jauh pengalaman saya dari senior senior relawan. Meski demikian, saya tidak pernah berhenti belajar, didasari rasa kepedulian saya terhadap sesama yang membutuhkan saya bergabung untuk menjadi seorang relawan. Meski tidak banyak materil yang saya berikan namun sedikit bantuan sosial dan rasa peduli saya bertekad untuk menjadi relawan.   

Awalnya bergabung di PYP karena saya selain bisa membantu sesama juga saya bisa memberikan dukungan moril kepada suami saya yang PMI (Pekerja Migran Indonesia) selain itu saya sangat sedih dan miris melihat ketidakpedulian masyarakat untuk bersama-sama melawan corona. Sedikit saja berbagi, hanya mengingatkan warga untuk tetap memakai masker saat diluar rumah itu saja sudah menjadi seorang relawan/pahlawan. Meski sulit, saya yakin jika dilakukan bersama-sama sang virus akan pergi.  

Sedikit berbagi pengalaman saya ketika menjadi relawan dan juga seorang istri PMI, dimana saya harus mengawasi dan memberikan logistik yang sesuai kebutuhan suami saya. Saat itu, suami saya mengalami sakit di kakinya yang memaksanya tidak bisa berjalan itu H+3 masa karantina. 

Menjadi seorang relawan tidak pernah ada dalam pikiran saya, bahkan masuk dan bergabung bersama Gugus tugas menjadi relawan non medis tidak pernah ada dalam benak saya. Masih jauh untuk merajut asa bagi warga masyarakat ditengah pandemi khususnya di lingkungan sendiri. 

Beragam kepala berbagai macam isi kepala tentu memiliki opini atau pendapat yang berbeda-beda. Untuk kembali ke aktivitas normal tentu membutuhkan waktu, kita sudah lama tidur dan saatnya untuk bangkit hidup normal. Bagi yang merasa waras ayolah bantu saya yuk normal, berbagi kasih dengan sesama, membantu sesamanya tanpa tebang pilih agama, suku, ras, bahasa dan daerah. 

Kembali lagi ke cerita saat suami sakit di kakinya. Sakitnya yang luar biasa memaksa saya harus melapor ke petugas medis terutama Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid19 Pemkot Denpasar, awalnya sulit karena laporan kami hanya diterima sambil lalu dan kami dilempar ke kabupaten Badung. Padahal suami saya PMI Denpasar, saya pun mulai mencari pertolongan dan syukurlah ada petugas medis yang mengantar obat untuk suami saya. 

Ternyata memang benar tidak semua penyakit yang dialami PMI ataupun warga yang diduga covid bisa ditangani secara langsung karena minimnya APD (alat pelindung diri) seperti hazmat sangatlah minim. Karena jumlah minim hazmat hanya bisa dipakai oleh tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien penderita covid19, bahkan hanya sekali pakai. Sementara bagi penderita yang diduga mengalami covid (seperti PMI) hanya diperiksa secara online/konsultasi by phone. Minimnya hazmat lantaran harganya selangit juga dikeluhkan oleh para petugas medis. Selain hazmat yang langka, ketersediaan faceshield (pelindung wajah), hand sanitizer dan sarung tangan juga dikeluhkan oleh tenaga medis.

Sumber yang tidak ingin namanya di publikasikan ini kepada penulis mengaku tidak diberikan APD lengkap untuk berjaga di Pintu Kedatangan/Keberangkatan Bandara Internasional Ngurah Rai.

"Saya diharuskan membawa sendiri peralatan sendiri, hanya faceshield (pelindung wajah) ini saya sudah punya dikasih pemerintah, tapi beberapa teman (rekan medis) ada yang belum punya, saya disuruh membawa hand sanitizer, sarung tangan, masker, dan hazmat itu dari pemerintah," ujar sumber beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya datang kepada sumber untuk mendistribusikan face shield, sarung tangan dan hand sanitizer. 

BACA JUGA : Warga Pendatang Lolos ke Bali Tanpa Surat Bebas Corona, Bupati Artha: Harusnya Diketapang Jangan Dikasi Nyeberang

Selain itu, menurut pengamatan saya sebagai relawan non medis, tidak ada petugas medis yang disediakan untuk berjaga-jaga di lokasi karantina PMI dan tidak ada pemeriksaan bagi PMI di setiap harinya seperti cek suhu tubuh dan cek kondisi para PMI hal inilah yang harus disikapi bersama.

Saya sebagai relawan non medis mendorong agar pemerintah khususnya kota Denpasar membuat skema yang mendetail terkait alur pemeriksaan para PMI yang tiba di Bali pada saat masa karantina. Bukan karena suami saya PMI tetapi saya berharap pemerintah bisa lebih aware lagi terhadap manusia.

Pelan namun pasti saya juga akan terus berjuang meski sulit melawan dan mengajak masyarakat untuk sedikit peduli, kembali back to normal meski horor. Dimulai dari lingkungan keluarga, saya ajak anak-anak untuk terbiasa melaksanakan hidup sehat ditengah corona. Rasa bosan, tidak peduli menjadikan pedoman saya untuk bisa mengajak anak-anak saya hidup dalam pikiran positif tidak takut namun kami waspada.  
  
Keluarga adalah satu bagian yang utuh jangan sampai kita jauh dari kehidupan anti sosial. Lupakan HP sejenak, sebentar kita bermain bersama keluarga, saling sapa bersama saudara/kawan/tetangga kembali kita gaungkan lagi, jangan sampai karena corona anda menjadi anti sosial.   

Yuk Normal! Jangan jadikan corona sebagai ketakutan karena ketakutan hanya akan membunuhmu. Hiduplah selayaknya manusia jangan menebar teror ketakutan. Apakah semuanya harus berakhir tragis dunia dipenuhi rasa takut akan kematian. Indah pada waktunya tentu akan terjadi bukan hoak namun fakta, jika manusia mau berubah. Lihatlah! bumi ini sudah tak lagi menangis, indah biru dan hijau, sejauh mata memandang bersih, adakah ini sisi positif dari corona? (BB/wds)  
 
Penulis adalah Triwidiyanti Prasetiyo, jurnalis lepas dan redaktur di media Baliberkarya.com. Penulis juga relawan PYP dan relawan non medis BNPB #newnormal #yuknormallagi #covid19  #relawanPYP #PYP19WDS #relawannonmedisBNPB
 


TAGS :

Komentar