Dorong Wisata Minat Khusus, Diusulkan Dibangun “Desa Yoga”

Istimewa for Baliberkarya
Baliberkarya.com-Denpasar. Potensi pariwisata spiritual di Bali sangat luar biasa. Misalnya, di salah satu daerah di Kabupaten Karangasem mengembangkan kawasan wisata spiritual berbasis budaya Bali seperti ini.  Wisatawan dapat melihat rangkaian 16 upacara, mulai dari kandungan hingga ngaben.
 
“Pariwisata seperti inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dan membedakan Bali dengan destinasi lainnya. Dan tentu saja, pembangunan kawasan spiritual budaya Bali, semakin menguatkan taksu Bali,” kata anggota Fraksi Nasdem-PSI-Hanura DPRD Bali, Dr. Somvir, saat membacakan pandangan umum fraksinya atas Ranperda Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Provinsi Bali dalam rapat paripurna DPRD Bali, Rabu (4/3).
 
Ia juga mengatakan, pembangunan kawasan yoga juga dapat mendorong minat khusus wisatawan. Sebagai pengembangan pariwisata Bali Utara misalnya, dapat membangun "desa yoga" sebagai daya tarik wisatawan dunia untuk melakukan yoga dan meditasi di Kabupaten Buleleng. “Potensi wisatawan dengan minat khusus ini akan semakin menarik jika digelar Festival Yoga di Buleleng, terutama di desa kuna, Sidatapa dan Pedawa,” ujar Dr. Somvir.
 
Di bagian lain, ia menilai Ranperda tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Bali yang menonjolkan soal quality tourism, sangat baik jika konteksnya bukan hanya wisatawan kelompok luxurious atau medium class tourist. Tetapi juga pada karakter baik dari wisatawan, mengingat belakangan ini banyak kasus kriminalitas yang melibatkan wisatawan mancanegara di Bali.
 
Fraksi Nasdem-PSI-Hanura juga mengingatkan agar standar kepariwisataan di Bali tidak perlu menghindarkan diri dari soal kuantitas, dalam hal ini jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Dikatakan, penting juga menjaga keberlangsungan pelaku maupun penyedia wisata pada lower class karena banyak pula komponen pariwisata pada segmen yang juga tersedia dalam geliat kepariwisataan di Bali. Meskipun begitu, kata Somvir, perlu dijaga keseimbangan di antaranya, sehingga tidak mengesankan Bali dijual murah, massive mass tourism, yang dikhawatirkan mengganggu daya dukung pulau Bali.
 
 
“Atensi juga harus diberikan untuk membuka pasar-pasar baru. Karena jika hanya bergantung pada satu pasar saja akan berisiko memberikan turbulensi bagi pariwisata Bali manakala negara asal pemasok wisatawan ke Bali mengalami kejadian tidak terduga, seperti musibah corona yang saat ini terjadi di Wuhan, Tiongkok,” papar Dr. Somvir.
 
Fraksi Nasdem-PSI-Hanura mengapresiasi konsep menampilkan keindahan alam Bali dan keunikan budaya Bali yang bersumber dari nilai-nilai filosofi Tri Hita Karana untuk mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam ranperda tersebut. Karena keindahan alam saja tidak cukup, mengingat tujuan wisata lainnya terus berbenah, termasuk munculnya  '10 Bali Baru’ program pemerintah pusat. Karena itu, kata dia, tidak salah jika keunikan budaya Bali mendapat penonjolan.  Di samping itu, sektor pertanian peralu dipadukan dengan pariwisata, dengan sebuah perlindungan pada sawah-sawah di lokasi-lokasi tertentu dengan memberikan insentif.
 
Untuk bidang pemasaran, Fraksi Nasdem-PSI-Hanura mempercayai metode pemasaran tradisional yang selama ini dilakukan melalui sales mission ke negara-negara yang dibidik dipadukan dengan cara-cara kekinian memanfaatkan optimalisasi platform era industri 4.0. Juga memanfaatkan influencer-influencer media sosial dari negara-negara yang dibidik harus lebih diseriusi sekaligus untuk membidik wisatawan-wisatawan milenial. (BB)
 

TAGS :

Komentar