Berkat Peduli Lingkungan, Bisnis IPAL Panji Astika 'Terbesar dan Terpercaya' di Tanah Air

Baliberkarya
Baliberkarya.com-Tabanan. Berawal dari kecintaan dan kepedulian besarnya pada pelestarian lingkungan, tokoh asal Puri Anom Tabanan yakni Anak Agung Ngurah Panji Astika, S.T. kini sukses menjadi pengusaha dan salah produsen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terbesar dan terpercaya di Bali bahkan seantero Tanah Air.
 
 
Berkat keahlian Panji Astika dengan prinsip jujur, profesional, dan kerja keras kini ia menjadi salah satu pioner perusahaan IPAL di Bali dan telah berhasil merambah pasar ke seluruh Indonesia baik untuk instalasi IPAL di perusahaan swasta maupun di kantor pemerintah.
 
"Saya bisa berbisnis tapi sambil selamatkan lingkungan. Bisnis saya jenis kotor tapi tujuan saya baik dan mulia karena menghasilkan kebaikan untuk menyelamatkan lingkungan," ucap Panji Astika kepada awak media saat bincang santai dikantornya.
 
Lulusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya, Malang ini menjelaskan IPAL atau yang disebut pula Waste Water Treatment Plant (WWTP) adalah sebuah struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain.
 
"Karena seharusnya semua limbah cair harus diolah jadi air bersih sampai layak dibuang. Nah disinilah IPAL memegang peranan penting untuk itu," kata ayah satu putri dan dua putra ini.
 
 
Pria ramah yang kini dijagokan sebagai Bakal Calon Bupati Tabanan pada Pilkada Serentak September 2020 mendatang ini menuturkan mulai melirik usaha IPAL sejak belasan tahun silam saat di Bali belum ada perusahaan IPAL lokal yang punya teknologi terpadu untuk pengolahan limbah cair. Bahkan, kala itu penggunaan IPAL masih belum banyak dilirik dan belum dianggap penting dimata mereka. 
 
"Saat itu tidak banyak mau pakai IPAL, padahal di luar negeri sudah gencar digunakan bahkan diharuskan. Jika tidak pakai IPAL diluar negeri tidak akan keluar izin usahanya," tutur pria ramah murah senyum. 
 
Atas dasar itulah, Panji Astika pun berpikir bagaimana membuat redesain teknologi dari instalasi IPAL yang digunakan di luar negeri. Pasalnya, jika ditiru atau digunakan total seperti aslinya maka biayanya cukup mahal dan belum bisa diterima pasar di Indonesia.
 
"Saya lalu dapat kenalan dengan sejumlah ahli dan pengusaha IPAL dari beberapa negara Eropa dan Australia agar bisa mendirikan perusahaan dan memproduksi instalasi IPAL sendiri di Bali sampai saat ini," ungkap Panji Astika dengan wajah sumringah penuh bahagia.
 
Ket Foto: Pioner IPAL, Tokoh Puri Anom Tabanan Anak Agung Ngurah Panji Astika, S.T
 
Sukses bisnis IPAL, Panji Astika lalu mendirikan PT. AMANAID sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Desain, Fabrikasi dan Instalasi untuk Sistem Pengolahan Limbah Cair (Waste Water Treatment) yang sering juga disebut sebagai IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan sistem pengolahan air bersih (Water Treatment).
 
Berkat hobi yang ia jadikan bisnis, Panji Astika akhirnya berhasil mengembangkan sejumlah instalasi IPAL. Hebatnya, beberapa sudah terdaftar mendapatkan Hak Paten, seperti teknologi Bio-Save -Tank yang saat ini sudah terpasang hampir di seluruh Indonesia.
 
"Bahkan kami bisa menangani sampai 1.000 proyek baik untuk perusahaan swasta dan Pemda dari seluruh Indonesia," ungkap Panji Astika.
 
 
PT. AMANAID bahkan secara bertahap membangun produk yang telah diaplikasikan di sebagian besar wilayah Indonesia dan telah teruji di beberapa jenis project dari tipe domestik. Seperti untuk villa, perumahan, restauran, klinik sampai ke skala komersial seperti hotel, apartemen, mall, pasar modern dan rumah sakit serta pabrik yang memperkerjakan ribuan karyawan. 
 
PT AMANAID milik Panji Astika juga telah bekerja sama dengan konsultan lingkungan di Australia dan didukung oleh pabrikan di Taiwan dan China serta mesin-mesin yang di beli di Jepang dan Jerman sehingga semua produk usahanya dan pelayanannya bermutu Internasional. Usahanya semakin kokoh apalagi saat ini pemerintah mewajibkan bangunan komersial punya IPAL. 
 
"Bangunan pemerintah juga wajib punya IPAL, bahkan hingga sekolah-sekolah juga didorong memiliki IPAL agar tidak terjadi dampak kerusakan lingkungan. Kami juga kembangkan IPAL untuk rumah tangga dengan sistem yang sederhana tapi handal kelola limbah cair," sebut Panji Astika.
 
Ia mengaku sedih dan kawatir melihat kesadaran masyarakat maupun pengusaha untuk mengelola limbah cair masih sangat rendah. Padahal Panji Astika sudah menyiapkan alat IPAL garmen dan tekstil tanpa zat kimia tapi mereka (pengusaha) tidak mau investasi. 
 
Mereka anggap memakai alat IPAL buang-buang duit, padahal itu investasi yang wajib mereka miliki dalam menjalankan usaha. Ia mencontohkan banyak usaha misalnya garmen membuang limbah cair ke sungai sehingga sungai pekat, berbau busuk, padahal di Bali limbah cair yang paling berbahaya. 
 
"Ini yang buat saya miris. Contohnya warna air Tukad Badung yang sempat berubah jadi merah serupa darah dan menjadi perhatian publik khan jorok dan berbahaya sekali itu limbah cair," tutup Panji Astika dengan raut wajah prihatin.(BB).

TAGS :

Komentar