Kebun IPSA Bali Panen Perdana Benalu

Baliberkarya
Baliberkarya.com-Buleleng. Kebun tanaman obat  Institut Pengembangan  Sumber Daya Alam  (IPSA) Bali yang mengoleksi 315 jenis tanaman obat di atas hamparan seluas 8 hektar di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng kini melakukan panen perdana tanaman benalu, sebagai bahan baku pembuatan teh herbal. “Pohon benalu (Dendrophthoe pentandra) yang diburu dari berbagai daerah di pesisir utara Pulau Bali dikembangkan sejak tiga 2016 pada tanaman Turi (gala-gala) yang didatangkan secara khusus dari Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. 
 
 
Dirut PT Karya Pak Oles Group, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana M.Agr dibantu Kepala Cabang PT Songgo Langit Persada (SLP) Jawa Tengah, Sarmo memburu tanaman turi  tersebut ke Gunung Kidul hingga berhasil membawa dan mengembangkan areal kebun tersebut. Turi yang dibawa itu sebanyak 50-100 pohon yang ditanam di kebun yang kini terus disulap sebagai Kebun Tanaman Obat Pak Oles di Desa Bengkel. Pohon turi ternyata tumbuh subur dan cocok untuk dikembangkan benalu. Benalu yang kini diintensifkan pengembangannya sebagai bahan baku teh herbal juga tumbuh subur pada pohon mengkudu, kemiri, jeruk dan pohon bunga delima.
 
Tanaman benalu  yang  telah dipanen perdana itu  sebagai bahan baku teh herbal yang memiliki kasiat untuk kesehatan, mengingat IPSA selama ini  mampu menghasilkan berbagai jenis ilmu terapan dalam herbal berbasis informasi Usada Bali, Jamu Nusantara, Tradisional Chinese Medicine, Ayurveda dan herbal etnik lainnya yang digunakan oleh suku suku tradisional di berbagai penjuru dunia, Pengembangan tanaman benalu di atas hamparan lahan seluas delapan hektar di pusat perkebunan tanaman obat itu ditata secara apik dan  serasi dengan ratusan jenis tanaman tanaman obat. Tanaman obat yang didukung dengan sistem pengairan yang memadai itu juga dikembangkan berbagai jenis tanaman pisang dari berbagai daerah di Indonesia.
 
 
Pria yang diakrabi Pak Oles itu menjelaskan pengembangan tanaman benalu  sebagai bahan baku teh herbal  cukup bermanfaat karena berkhasiat untuk  menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker, serta sebagai anti oksidan (penyerap racun) dan mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Dengan begitu, bisa mendukung tujuan IPSA Bali menuju Kelas Herbal bagi peserta pelatihan yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.  IPSA yang didirikan tahun 1997 merupakan sebuah lembaga pendidikan, pengembangan dan penelitian sumberdaya alam yang mencakup bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna mengembangkan  serta  memanfaatkan sumberdaya alam untuk pembangunan yang berkelanjutan.
 
 
Peserta yang datang dari seluruh daerah di Indonesia  dengan  latar belakang yang berbeda selain mengikuti pelatihan pertanian organik dengan teknologi effective Mieroorganisme (EM4) juga menyangkut kelas herbal.  Produk herbal yang diproduksi oleh Industri herbal Pak Oles adalah berbasis minyak fermentasi dengan teknologi  Effective Microorganisme (EM) temuan Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang serta informasi dari Ramuan Pusaka Dadong Bandung yang merupakan ramuan warisan dari nenek Pak Oles, serta produk teh herbal. 
 
 
Teh herbal merupakan produk herbal Pak Oles yang baru dengan 13 jenis varian yang sudah dipasarkan. Dalam tahun ini Pak Oles segera  mempersiapkan 16 jenis teh herbal untuk diproduksi. Melalui proses penelitian teh herbal tersebut akan bisa dikembangkan budaya dan pengolahan bahan baku teh herbal yang berkualitas, termasuk teh dari bahan baku tanaman benalu.
 
Dalam  tahun ini diharapkan bisa diluncurkan 16 jenis teh herbal yang menyehatkan bagi masyarakat luas sebagai minuman yang berkhasiat dengan cita rasa yang penuh godaan. Ide besar Pak Oles adalah menjadikan perusahaannya sebagai industri teh herbal terbesar di Indonesia yang memiliki keunggulan daya saing yaitu produk organik, teknologi EM, bahan baku berkualitas, cita rasa tinggi dan harga bersaing.  Pak Oles menyakini, 5 tahun ke depan perusahaannya bisa menjadi market leader  teh herbal di Indonesia. (BB)

TAGS :

Komentar