Indahnya Panorama‎ "Jogging Track" Desa Wisata Pinge Berkonsep Tri Hita Karana

Baliberkarya
Baliberkarya.com-Tabanan. Pulau Bali tak hanya tersohor dengan obyek wisatanya berupa keindahan pantai, namun panorama alam pedesaan berupa hamparan sawah dan suasana sekitarnya yang eksotik juga menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlibur ke Bali.
 
Salah satu desa wisata yang dilirik wisatawan yaitu Desa Wisata Pinge yang berada di Banjar Dinas Pinge, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan. Meski menjadi obyek wisata, Desa Pinge yang dihuni sebanyak 163 Kepala Keluarga dengan 818 jiwa telah menjadi desa wisata sejak 2004 melalui SK Bupati Tabanan dan hebatnya sampai saat ini tetap mempertahankan konsep Tri Hita Karana atau keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan alam lingkungan dan sesamanya.
 
Untuk mencapai Desa Wisata Pinge, jika kita turun dari Bandara Ngurah Rai dengan mengendarai kendaraan perjalanan kurang lebih ditempuh 50 Kilometer atau sekitar 2 jam menuju kawasan Desa Marga yang asri dan sejuk dengan rerimbunan pohon yang dikenal menjadi sentra tanaman hias. Saat kita masuk kawasan Desa Wisata Pinge sudah terdapat Information Center (pusat informasi) untuk mengetahui lebih jauh tentang Desa Wisata Pinge.
 
Jogging Track sepanjang 1,7 kilometer dengan sekelilingnya hamparan sawah dari tiga subak yakni Pacung, Baloan, dan Pengilen adalah salah satu andalan Desa Wisata Pinge. Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya bersama rekan-rekan dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua pun mencoba kawasan jogging track dengan menyusuri jalan pedesaan sambil melihat hamparan sawah yang banyak terdapat burung kokokan dan aneka tanaman baik sayuran maupun aneka warna bunga pacah serta gemitir yang tentu saja pemandangan indah nan asri itu menggoda wisatawan untuk selfie.
 
 
Gemercik air yang jernih berkat sistem subak warga dan segarnya udara pedesaan di Desa Pinge menyulap rasa lelah saya saat menyusuri jalan setapak pedesaan. Perjalanan selama kurang lebih 1 jam dengan menyusuri kawasan jogging track saya rasakan tak begitu melelahkan lantaran terhipnotis panorama alam pedesaan yang indah dan udara yang sejuk membuat tubuh saya tambah bugar dan bersemangat. 
 
Ketua Badan Pengelola Desa Wisata Pinge, Anak Agung Ngurah Putra Arimbawa menyatakan sebelumnya yang banyak menikmati wisata jogging track adalah dominan wisatawan domestik dan wisatawan asing kebanyakan dari Perancis, Jerman, dan Jepang. Diluar group yang dibawa agen atau travel, rata-rata yang berkunjung kisaran 15 sampai 25 orang per hari dan perbulan yang menginap mencapai 50 orang diluar group.
 
 
"Untuk menikmati jogging track wisatawan cukup membayar 10 ribu per orang sudah mendapat air minum dan pemandu lokal yang telah disiapkan. Kalau dulu dominan wisatawan domestik dari sekolah-sekolah, tapi akhir-akhir ini wisatawan yang datang hampir berimbang antara wisatawan domestik dan mancanegara," kata Putra Arimbawa didampingi Bendesa Adat Pinge Made Jadrayasa kepada awak media, Senin 12 Agustus 2019.
 
Usai jogging track, setiba di Balai Banjar Desa Adat Pinge saya pun langsung disambut senyuman keramahan penduduk Desa Pinge serta alunan Ngoncang yang dimainkan warga dari alat ketungan dan lu sebagai simbol menyambut tamu yang baru datang. Dengan disuguhi kelapa muda, saya disambut Bumbung Gebyog, tarian sakral yang dipertontonkan disaat acara-acara tertentu sambil menyaksikan warga yang berbaur dalam tradisi Mebat atau mengolah daging, sayur, maupun bumbu untuk menjadi masakan yang sampai saat ini tetap dilestarikan warga. 
 
"Kami di Pinge tidak mengenal low sesion ataupun high sesion karena hampir merata tiap bulan target kunjungan wisatawan terpenuhi. Kita binaan ITDC jadi kita banyak dibantu infrastruktur, pendampingan baik itu promosinya dan lainnya," jelas Putra Arimbawa.
 
 
Setelah aneka kuliner khas Desa Pinge jadi diracik saat Mebat, saya pun mencicipi masakan warga Pinge sambil disuguhkan Tari Leko yang merupakan kesenian khas Desa Pinge. Berwisata di Desa Pinge membuat kita benar-benar dimanjakan "bak raja" yang disambut warganya dengan bersuka cita menunggu kehadiran kita.
 
"Kebetulan BUMN, kemarin ITDC mengadakan ulang tahun dan mengundang Menteri BUMN Rini Soemarno serta kebetulan diadakan disini mengatakan akan menggandeng BUMN di Indonesia, jadi kita banyak dibantu. Berlomba-lomba kita banyak dibantu CSR dari BUMN," ungkap Putra Arimbawa sambil tersenyum gembira.
 
Sementara, Managing Director The Nusa Dua, I Gusti Ngurah Ardita mengakui jika Desa Wisata Pinge dengan potensi alam, tradisi dan budaya sangat potensial untuk dikembangkan lagi. Ardita berharap Desa Pinge menjadi desa wisata yang profesional dalam artian tidak ingin desa itu hanya menjadi sebuah obyek, namun justru ia ingin atraksi yang ada di Desa Pinge dikemas dalam konsep wisata yang menghasilkan dan masyarakat merasa mendapat manfaat dan menikmati. 
 
 
 
"Jadi tidak hanya dijadikan obyek, terus mereka ditinggal begitu saja dan yang menikmati hanya yang membawa wisatawan saja. Kita ajak masyarakat bersama, ITDC akan menyiapkan konsepnya bahwa setiap atraksi disini memberikan manfaat kepada masyarakat. Mereka akan mau berusaha jika hal itu menghasilkan buat mereka," terang Ardita.
 
Ardita menegaskan akan memulai cek infrastruktur di Desa Pinge dan bekerjasama dengan yayasan Tri Hita Karana untuk mengangkat wisata budaya dan tradisi. Pihaknya juga akan melakukan langkah perbaikan dan pomosi serta membangun Desa Pinge dengan konsep CSR secara bertahap tiap tahun dengan tujuan masyarakat secara bertahap akan terbiasa. 
 
"Kita fokus dulu disini, jika konsep ini berhasil maka dengan mudah kita pindahkan ketempat lain. Secepatnya akan kita akan undang pemuda dan masyarakat disini kita ajak ke Nusa Dua untuk diskusi sambil memperlihatkan areal disitu sehingga membuka wawasan tentang pariwisata," tegas Ardita.
 
 
Selain menikmati jogging track, di Desa Wisata Pinge juga bisa melihat Cagar Budaya berupa Pura Natar Jemeng. Pura yang dulu dikukuhkan Gubernur Bali Prof. DR. Ida Bagus Mantra memiliki keunikan tersendiri karena terdapat sejumlah arca peninggalan sejarah. Bagi yang ingin menginap di Desa Pinge juga terdapat 19 home stay dengan total 132 kamar.
 
"Ada beberapa paket wisata seperti paket menginap 1 hari, paket menginap 2 malam, 3 hari 2 malam yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti belajar mejejaitan, meulatan, menari, megambel, dan mebat dan lainnya," tutup Putra Arimbawa.(BB/Dewa Putu Sumerta).

TAGS :

Komentar