Hadiri World Economic Forum 2019, Indonesia Bersiap Hadapi Revolusi Industri ke-4

baliberkarya
Baliberkarya.com-Internasional. Lebih dari 3,000 partisipan dari ranah pemerintahan, warga sipil, seni dan budaya dan media berkumpul di Swiss, Davos, selama lima hari untuk mendiskusikan sejumlah isu mendesak terkait tantangan global. 
 
 
Termasuk pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong. 
 
Hadir juga perwakilan akademisi dan praktisi bisnis, Indonesia seperti Profesor Ekonomi Internasional pada Universitas Indonesia Mari Elka Pangestu,  Ketua Kadin Roesan Roeslani, CEO PT. Bakrie Global Ventura Anindya Bakrie, Pendiri dan CEO Tokopedia William Tanuwidjaja, dan Direktur Grup Lippo John Riady.
 
Sebagaimana diketahui, World Economic Forum (WEF) mengadakan pertemuan Davos setiap tahunnya. Pertemuan ini dimaksudkan untuk menguatkan kerja sama sektor swasta dan pemerintahan dalam menghadapi tantangan global. 
 
 
Tahun ini, lebih dari 300 orang Kepala Negara dari seluruh dunia dan para tokoh bisnis dunia seperti Bill Gates, George Soros, CEO UBER Dara Khosrowshahi, CEO Goldman Sachs yang baru CEO David Solomon, dan Pendiri Bridgewater Ray Dalio menghadiri pertemuan ini. 
 
Mengangkat tema Globalization 4.0: Shaping a Global Architecture in the Age of the Fourth Industrial Revolution, Indonesia bersama perwakilan negara yang hadir ingin membangun masa depan yang konstruktif, melalui cara yang kolaboratif. 
 
Pertemuan ini akan membahas Asia sebagai Blok Baru, memiliki rekor dalam hal pertumbuhan ekonomi, perkembangan dan kerja sama regional. Asia diyakini mampu tampil sebagai kekuatan besar dalam hal dinamika dan kesempatan. 
 
Forum ini membahas sejumlah inisiatif diantaranya Forum Digital Asian yang bertujuan mendukung perkembangan ekonomi digital. Diluncurkan sejak April 2018 di Singapura, proyek ini dipimpin dan dibentuk oleh Dewan Penasihat yang terdiri atas lima menteri ASEAN, dimana Menkominfo Rudiantara ditunjuk menjadi salah satu anggota dewan.
 
 
Inisiatif kedua adalah ASEAN Regional Strategic Group (RSG), komunitas para pemimpin pemerintahan, akademik dan bisnis yang bertujuan untuk menyediakan panduan strategis dalam mendefinisikan visi dan agenda bersama bagi pertumbuhan dan perkembangan ASEAN. Dibentuk tahun 2016, RSG secara konsisten mengadakan pertemuan dua tahun sekali, di Davos, dan di ASEAN Summit. 
 
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Profesor Ekonomi Internasional Universitas Indonesia Mari Elka Pangestu merupakan anggota permanen dari kelompok strategis ini. (BB)

TAGS :

Komentar