Proyek Pelabuhan Benoa 'Bukan Reklamasi', Menko Luhut: Presiden Jokowi 'Minta Bali Ditat

Baliberkarya.com-Badung. Menanggapi isu miring dan tudingan negatif pihak tertentu terkait proyek pengembangan Terminal Kapal Pesiar di Pelabuhan Benoa, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan jika proyek di Pelabuhan Benoa bukanlah reklamasi. 
 
 
"Presiden meminta kami harus mendengar aspirasi. Namun saya meminta masyarakat harus paham, bahwa kadang-kadang ada kepentingan sekelompok kecil tergusur atau terkena dampak untuk kepentingan yang lebih besar," pinta Luhut saat memberi sambutan sekaligus meresmikan Underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (22/9/2018).
 
Untuk itu, Luhut meminta masyarakat Bali tenang dan menyentil pihak tertentu agar tidak membuat gaduh terhadap setiap proyek yang dikerjakan pemerintah demi kemajuan bangsa. Ia bahkan mengaku pengembangan Terminal Kapal Pesiar di Pelabuhan Benoa akan selesai akhir bulan ini. 
 
"Sehingga nantinya akan mampu merapat kapal-kapal pesiar besar yang akan membawa sampai 3.000 orang turis. Kita jangan hanya berharap menerima dari Singapura. Kita harus bisa membuat Bali ini menjadi hub turis," tegasnya.
 
 
Dalam kesempatan ini, Menko Luhut juga mengapresiasi pembangunan Underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, Badung karena selesai lebih cepat dari waktu yang ditargetkan.
 
"Ini lebih cepat satu setengah bulan dan memang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) paten banget. Hampir semua proyek nasional yang dikerjakan berjalan dengan baik," puji Luhut.
 
Menko Luhut juga menjelaskan, bahwa dampak dari pembangunan ini, akan membebaskan lalu lintas di Bali dari kemacetan. Apalagi mendekati event besar IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, di bulan Oktober 2018 mendatang, para tim IMF sudah berada di Bali dan mulai bekerja. 
 
Ket Foto: Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan
 
 
"Sejak hari Jumat (21/9) kemarin para peserta yang akan datang ke Bali sudah mencapai 19.000 orang. Kita agak pusing karena permintaan kendaraan juga meningkat. Padahal kami sudah hitung kendaraan disini hanya bisa 3.400 kendaraan. Sekarang mobil kecil sudah hampir 4.000 kendaraan. Kita lagi mengatur jangan sampai macet total hal ini juga menjadi masalah lain," jelasnya.
 
Menko Luhut juga mengungkapkan, jika destinasi wisata di Bali mencover hampir 40 persen lebih turis di Indonesia sehingga dengan adanya hal tersebut Presiden Joko Widodo meminta Bali agar ditata. Ia mengakui sudah meminta World Bank dan Universitas Udayana untuk membuat study
 
"Karena runway (Bandara) Ngurah Rai kita akan perlebar sampai 40 hektar Apronnya, akibatnya jumlah penumpang yang akan datang ke Bali bisa saja 37 juta orang dalam 3 atau 4 tahun kedepan. Sekarang ini tidak akan mampu mengurangi trafik itu. Ini paling mampu 2 atau 3 tahun setelah itu akan penuh. Oleh karena itu dengan study itu apakah akan membuat jalan keluar dari Airport. Studi ini akan dimulai," ungkapnya.
 
Selain itu, Menko Luhut juga meminta pembangunan Bandara Internasional Bali Utara di Buleleng juga segera dibuat. "Karena itu harus bersinergi, dengan demikian konekfitas di Bali akan bagus dan turis akan punya dampak besar pada Bali," tandasnya.
 
Menurut Luhut, study yang dibuat oleh Bapenas bahwa dampak dari IMF-WB ini akan menaikan pertumbuhan ekonomi dari Bali dari 5,9 persen menjadi 6,54 persen pada tahun ini. Dikatakan itu merupakan dampak yang sangat signifikan. Selain itu mampu menciptakan 32.700 lapangan kerja. "Ini merupakan penerimaan yang besar. UKM akan banyak berkembang," terangnya.
 
Pihaknya yakin tahun depan akan bisa menerima pendapatan dari turis sekitar 7 miliar dolar. Apalagi target pemerintah tahun dapat menerima 20 juta turis. Oleh karena itu, Luhut mengajak bersama-sama jaga dan pelihara Bali dengan bagus dan menjaga beberapa destinasi yang ada. 
 
"IMF tinggal 2 minggu lebih. Pertemuan itu nanti merupakan terakbar di luar Amerika sejak IMF digelar 1946. Ini suatu hal yang luar biasa untuk Bali. Mari kita sama-sama membuat Bali tenang. Kita menjadi tuan rumah yang bagus," ajak Luhut mengakhiri.(BB).

TAGS :

Komentar