Duh Kenken Ne! Sekolah Suruh Siswa 'Jual Produk Keliling', Dijanjikan Fee 10 Persen

Baliberkarya
Baliberkarya.com-Jembrana. Sejumlah siswa kelas XII SMK Negeri 1 Negara yang mendapat tugas praktek menjual produk teh seduh kemasan oleh pihak sekolah, dikeluhkan oleh sejumlah orang tua siswa.
 
 
Pasalnya, tugas tersebut dinilai membebani siswa dan diduga ada permainan bisnis yang dilakukan pihak sekolah dengan memanfaatkan para siswa. Sejumlah orang tua murid mengaku keberatan dengan tugas praktek ini.
 
Disamping itu, tugas tersebut sarat muatan bisnis dan pihak sekolah diduga sengaja mencari keuntungan dengan menjual produk lebih mahal dari harga pasaran. Sejumlah siswa sekolah tersebut kemarin sore terlihat keliling menjajakan produk tersebut agar bisa laku sesuai target.
 
Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan anak-anaknya,karena saat pulang sekolah tidak bisa beristirahat atau tidak bisa membantu orang tua di rumah lantaran selepas ganti pakaian seragam sekolah anaknya harus berkeliling menjajakan dagangan biar cepat laku sesuai target.
 
Salah seorang siswa kelas XII sekolah mengatakan, dirinya dan siswa lainnya memang diberikan tugas oleh guru kewirausahaan di sekolah untuk memasarkan minuman herbal berupa teh seduh tersebut.
 
Menurutnya teh seduh herbal tersebut memiliki khasiat kesehatan sangat baik yang diproduksi oleh salah satu perusahaan di Jawa Timur. Tugas menjual produk ini diakuinya memang ada setiap tahunnya.
 
 
“Setiap tahun memang ada tugas menjual produk, dulu susu kedelai dan sekarang teh herbal ini,” ungkapnya, Selasa (7/8/2018).
 
Menurutnya tugas menjual produk merk Teh Hitam Tjap Keris ini merupakan tugas untuk pelajaran kewirausahaan di sekolahnya. Setiap siswa menurutnya diberikan masing-masing 4 slot yang berisikan 16 kotak produk teh seduh kemasan 40 gram dengan harga jual Rp15 ribu per kotak.
 
“Memang untuk dapat nilai 100 harus melalui 3 tahap, ada home training mengikuti sosialisasi, lalu pemasaran dan test interview. Kami dikasi 1 minggu untuk menjual produk ini,” tuturnya. Lanjutnya, pihak guru di sekolah menjanjikan memberikan fee 10 persen dari hasil penjualan dan siswa mendapat sertifikat. Menurut siswa jurusan Akutansi  ini, kegiatan tersebut merupakan kerjasama sekolah dengan Lembaga Tamaganda Entrepreneur Konsultan dari Surabaya.
 
Sejumlah orang tua siswa juga ikut kelimpungan dengan tugas ini, selain ada yang membeli sendiri dagangan anaknya, juga ada yang ikut membantu memasarkannya. Mereka mengeluh terhadap tugas para siswa yang dinilai menguntungkan pihak tertentu.
 
“Kalau seperti ini kan sama dengan menjadi sales produk yang dipasarkan sekolah, harganya juga kalo dicek dionline hanya Rp 11 ribu,” ungkap salah seorang wali murid.
 
Lanjutnya, jika menciptakan entrepreneur tidak semestinya menyuruh siswa menjajakan produk. Siswa seharusnya didik menjadi pelaku usaha yang menciptakan lapangan kerja seperti membuat model usaha atau membuat suatu produk yang inovatif.
 
 
Terkait hal tersebut, Kepala SMK Negeri 1 Negara, I Putu Wardana dikonfirmasi wartawan tadi sore mengatakan kewirausahaan merupakan salah satu materi pelajaran produktif di SMK dan penjualan produk teh oleh siswanya itu merupakan tugas praktek bagi siswa kelas XI dan XII.
 
“Itu tugas praktek penjualan dan salah satu kompetensi untuk mendidik para siswa memasarkan barang, bagaimana mereka bisa merayu konsumen,” ujarnya.
 
Ia membantah tugas yang diberikan kepada siswanya itu sarat dengan pertimbangan bisnis atau untuk keuntungan karena hal itu adalah non profit dan tidak mesti harus habis dan telah ada MoU dan tidak ada motifasi mengejar keuntungan.
 
“Kalaupun laku untungnya juga untuk siswa. Sudah disosialisasikan kepada para siswa tapi kalau seperti ini siswa kami yang salah menyampaikannya. Dan memang tidak boleh dijual kepada orang tuanya,” tandasnya.(BB)

TAGS :

Komentar