Sempat Kecewa Kampanye Sepi, Koster Dikabarkan 'Ngambul Batal Maturan'

Baliberkarya.com/ist
Baliberkarya.com-Buleleng. Masa kampanye Pilgub Bali 2018 telah berakhir, Sabtu (23/6). Meski begitu, hajatan politik lima tahunan itu akan selalu membekas dalam sanubari masyarakat Bali khususnya warda Desa Banyuning, Buleleng, terutama kampanye Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster. 
 
 
Pasalnya, bukan kesan positif yang tertinggal, melainkan sebaliknya. Masyarakat setempat menyayangkan pilihan Wayan Koster ngambul untuk tidak jadi "maturan" alias sembahyang karena kampanye yang dirancang tim suksesnya, Selasa, 12 Juni 2018 sepi pengunjung.
 
Beberapa warga setempat yang hadir dalam kampanye di Wantilan Pura Dalem Purwa, Jalan Raya Gempol, Banyuning, Buleleng kala itu mengatakan sedianya pertemuan dengan warga berlangsung selama dua jam. Namun karena sepi, pasangan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) itu memilih berhenti di tengah jalan. 
 
Dimana dari 2 jam waktu yang disiapkan warga, Koster dan tim pemenangannya hanya mengambil jatah kurang lebih 30 menit. Kampanye berakhir sekitar pukul 11.15 siang. Dalam rekaman video diketahui Koster sempat menjabarkan visi dan misinya, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali. 
 
 
Kepada warga, Koster mengatakan bila ingin maju, masyarakat Banyuning harus memanfaatkan momentum Pilgub Bali 2018. 
 
"Saya minta di Banyuning ini supaya solid nindihin nyama gelah uli Buleleng (membela saudara sendiri dari Buleleng). Jangan mikirin partai. Pemilihan Legislatif 2019 nyanan urusane (urusan nanti). Jani gubernur malu apang seken rage ngidang membangun Buleleng (sekarang gubernur dulu agar kita bisa membangun Buleleng)," bujuk rayu Koster. 
 
Pada kesempatan itu, Koster menyebut urusan di bidang pendidikan, yaitu wajib belajar 12 tahun sebagai kerjaan yang kecil. 
 
"Cenik gae to. Betul-betul CGT," tandasnya.
 
Bahkan, berulangkali Koster berkata masyarakat Banyuning harus memilih dirinya. Menariknya, Koster menyebut masyarakat setempat tak bisa berharap dari calon lain.
 
"Ake uli Buleleng. Ake uli Buleleng. Nyen kal biin tohin? (Saya dari Buleleng. Saya dari Buleleng. Siapa lagi yang mau didukung?). Yen kanti sing membela orang Buleleng naaaaa. Yen kanti di Banyuning kalah naaaaa. Mecatet. Kal sepalang sube (Kalau sampai tidak membela orang Buleleng naaaaa. Kalau sampai di Banyuning kalah naaaaa. Dicatat. Akan tidak dihiraukan sama sekali)," ucapnya dengan nada mengancam.
 
 
Koster meminta warga untuk memilihnya demi kemajuan Banyuning. 
 
"Yen sing nyak kompak nyen nyak ngerunguang (kalau tidak kompak siapa mau menghiraukan?," ancamnya kembali.
 
Koster berkata jangan hanya karena dana hibah bansos senilai Rp 100 juta dari seseorang dirinya tidak dipilih. "Kecil itu. Nggak ada wujudnya. Apa wujudnya coba? Apa bentuknya coba? Apa jadinya coba?" tanyanya kepada warga. 
 
Lebih lanjut, Koster bertanya alasan kehadiran masyarakat Banyuning yang cuma segelintir orang. "Masak sih Bupati (Agus Suradnyana) ke sini yang hadir cuma
sedikit?" tanyanya.
 
Koster juga sempat menyentil bendesa setempat sambil mempertanyakan kekompakan warga Desa Banyuning. "Kalau tidak kompak jangan harap," tandasnya. 
 
 
Mirisnya, usai berbicara dengan nada mengancam, di akhir kampanye, anggota DPR RI tiga periode itu memohon kepada warga agar memilihnya Rabu (27/6) nanti. 
 
"Tiang betul-betul ngidih olas niki. Nitipang dewek di Banyuning niki (Saya betul-betul minta tolong ini," ucapnya memelas setelah sebelumnya bernada mengancam. 
 
Sementara informasi di lapangan, bukannya meraih simpati warga, kampanye Koster justru menyisakan tanda tanya. Pasalnya, Koster batal menunaikan persembahyangan di Pura Dalem Purwa. 
 
 
Padahal warga setempat sudah menyiapkan pemangku dan sarana sembahyang di pura dalem tertua yang diusung warga Banyuning Tengah dan Banyuning Barat itu. Sementara, jarak antara pura dan wantilan tempat Koster kampanye hanya 20 meter. 
 
"Susunan acara 2 jam. Sekitar 30 menit suwud  karena bedik ne teka. Akhirne buwung maturan (Sekitar 30 menit selesai karena sedikit yang datang. Akhirnya batal berdoa). Alasane (alasannya) karena waktu mepet," kata seorang warga.  
 
Bupati Buleleng Agus Suradnyana, lanjut warga menjelaskan Koster buru-buru ke Desa Penjarakan untuk kampanye berikutnya. 
 
 
"Banten dan pemangku sudah disiapkan. Tapi Pak Koster sing nyak maturan karena ade acara kone. (Pak Koster tidak mau sembahyang karena ada acara katanya). Intinya prajuru sudah siap menjamu untuk sembahyang," jelas warga.
 
Apakah ada kekecewaan? Warga menjawab ada. Dikatakannya urusan politik harus dibedakan dengan urusan berdoa. 
 
"Kalau tidak jadi sembahyang hanya karena warga yang datang sedikit, tentu sangat disayangkan sikap Pak Koster," tegasnya.(BB)

TAGS :

Komentar