Tangannya Puntung, Luh Madri Tetap Semangat Bekerja Jadi Tulang Punggung Keluarga

Baliberkarya.com-Jembrana. Sungguh miris kehidupan yang dialami keluarga Kadek Raun (36) dan istrinya Luh Sumerti (32) yang tinggal di Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya, Jembrana. 
 
 
Mereka hidup di pelosok desa di pinggir bendungan Palasari Melaya. Mencari rumah pasutri yang hidup sangat memprihatinkan ini awak media Baliberkarya.com harus rela menempuh perjalanan jauh dengan kondisi medan yang terjal dan curam. Bahkan, jalan menuju lokasi juga rusak parah dipenuhi krikil-krikil lepas. 
 
 
Pasutri tersebut memiliki empat orang anak. Putri pertamanya bernama  Ni Luh Madri (14). Keluarga ini merupakan keluarga tidak mampu yang masuk dalam buku merah. Namun, karena kendala tanah yang ditempati merupakan milik PIB (Proyek Irigasi Bali) sehingga belum bisa diusulkan mendapatkan bantuan bedah rumah.
 
 
Menurut Kepala Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya  keluarga ini menerima raskin. Sedangkan Ni Luh Madri yang kini siswi kelas 3 SMPN 5 Melaya menerima bantuan beasiswa karena memiliki kartu KIS.
 
 
Keluarga ini tidur dalam satu gubuk jadi satu dengan dapur dengan kondisi dua kasur dan tikar yang sudah lusuh. Sementara gubuk mereka juga sudah reot dan pondasinya amblas. Namun, Kadek Raun sedikit demi sedikit mulai membangun pondasi rumah sehingga mereka memiliki tempat layak huni.
 
 
Dalam keseharian Ni Luh Madri harus ke sekolah lebih pagi sekitar pukul 06.00 Wita karena harus mengayuh sepeda dayung sepanjang 5 km dengan medan yang sangat berat dengan hanya menggunakan satu tangan karena tangan kanannya putung akibat amputasi sewaktu masih duduk di kelas 2 SD. 
 
 
"Sewaktu saya kelas 2 SD saya jatuh dari pohon singapur sehingga tangannya patah dan membusuk. Orang tua saya tidak punya uang untuk berobat ke dokter jadinya hanya diobati dengan cara tradional," tutur Madri, Jumat (30/9/2016)
 
 
Karena tidak punya biaya berobat dan hanya diobati dengan cara tradisonal sehingga tangannya  harus diamputasi lantaran terus membusuk. Meskipun tangan kanannya kini putung tapi Ni Luh Madri tetap semangat menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan, dia dengan kesadaran sendiri membantu orang tuanya yang hanya petani mencari kayu bakar. 
 
 
Bahkan kayu bakar dicari di seberang bendungan Palasari yang ada di bawah rumahnya dengan mengayuh rakit kayu dengan satu tangan. "Ya saya naik rakit sendiri dan sudah biasa. Saya bantu orang tua dua hari sekali mencari kayu bakar ke seberang bendungan. Saya kayuh pake pelepah kelapa. Di seberang lebih banyak ada kayu bakar. Saya kasihan melihat orang tua saya hanya petani dan adik-adik masih kecil-kecil," katanya.
 
 
Ni Luh Madri mengaku tidak ada kendala dalam menjalani keseharinya. Bahkan, dia bisa berenang meski menggunakan satu tangan. Sehingga dia tidak pernah khawatir jika terjatuh di bendungan yang dalam. 
 
 
Melihat kondisi keluarga tersebut, Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo tersentuh hatinya. Melalui Wakapolres Kompol AA Rai Laba, Kapolres membantu keluarga yang kurang mampu ini. Bantuan diberikan berupa dana untuk biaya sekolah dan sembako.
 
 
Bersama Kapolsek Melaya Kompol Ketut Darmita, Babinkamtibmas, Babinsa Ekasari, Kadus Palarejo dan sejumlah relawan Wakapolres mewakili Kapolres Jembrana langsung menuju rumah pasutri yang hidup dibawah garis kemiskinan tersebut. 
 
 
"Kami prihatin dengan kondisi siswi dan keluarganya seperti ini. Kami juga salut dengan semangatnya. Jadi mari kita bantu sama-sama," ujar AA Rai Laba, Jumat (30/9/2016).
 
 
Wakapolres Jembrana berharap kepada semua pihak agar rasa kepedulian antar sesama ditingkatkan. Pihaknya juga berharap program Jumat Berbagi Polres Jembrana ini bisa berkesinambungan dan menjadi tauladan bagi para dermawan lainnya untuk saling berbagi dan mengasihi bagi warga yang membutuhkan pertolongan. Oh indahnya berbagi.(BB).

TAGS :

Komentar