Waduh! Rata-Rata 100 Orang Lebih Warga Jembrana Berbuat Mesum Tiap Harinya

google.com/image

Baliberkarya.com-Jembrana. Kasus tewasnya salah seorang Kelian Adat di Jembrana ketika berbuat mesum di hotel dengan selingkuhannya, bisa dibilang pertanda perilaku mesum di kalangan beberapa warga Jembrana tinggi.

 

Fakta ini juga diperkuat dari beberapa kali giat operasi mesum yang dilakukan aparat kepolisian, hampir semua penginapan dan hotel kelas melati di huni oleh pasangan mesum atau selingkuh yang hendak "begituan" atau berhubungan badan terlarang bukan suami istri.

 

Dari penelusuran awak media Baliberkarya.com ke sejumlah penginapan/hotel kelas melati yang ada di Jembrana, dipastikan 100 persen pengunjungnya adalah pasangan mesum atau selingkuh.

 

Satu penginapan/hotel melati tiap harinya rata-rata dikunjungi 20 sampai 25 pasangan mesum/selingkuh. Sementara penginapan/hotel melati di Jembrana jumlahnya mencapai puluhan.

 

"Sekarang pengunjung agak sepi pak, satu hari tamu paling banyak antara 20 sampai 25 pasang datang ke hotel. Ini gara-gara sering ada operasi. Dulu sih tamu sampai 40 pasang tiap hari," ujar NP, salah satu penjaga Hotel melati di Jembrana, Minggu (7/8/2016).

 

Menurutnya, tamu-tamu hotel yang datang tiap harinya kebanyakan adalah pasangan selingkuh, yang sama-sama memiliki pasangan yang resmi. Disusul, pasangan selingkuh yang laki-lakinya sudah punya istri, sementara perempuannya seorang janda dan kebanyakan cewek kafe.

 

"Sedangkan pasangan ABG atau remaja jumlahnya sedikit dan mereka masuk hotel pada hari-hari tertentu, misalnya malam minggu," jelas NP.

 

Penginapan/hotel melati yang paling banyak dikunjungi adalah yang sewanya berkisar antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu untuk "shotime". Sedangkan, hotel yang sewa kamarnya diatas Rp 50 ribu agak jarang dikunjungi oleh pasangan mesum atau selingkuh.

 

Hal ini dibenarkan oleh sejumlah penjaga hotel lainnya yang mengatakan hampir seluruhnya tamu hotel tiap harinya adalah pasangan mesum atau selingkuh. 

 

Pihak pengelola hotel juga memberikan kelonggaran kepada para tamu agar hotel-hotel mereka ramai dikunjungi tamu. Jika tamu yang datang pihak hotel/penginapan tidak akan mencatat identitas mereka termasuk persyaratan yang lainnya.

 

"Pokoknya jika ada tamu yang datang langsung membayar sewa kamar, kami langsung serahkan kunci, kami tidak pernah mencatat identitasnya. Tapi kalau setiap tamu dicatat identitasnya jelas tidak ada yang mau masuk ke hotel kami," tutur JR, salah seorang pengelola hotel lainnya di Jembrana.

 

Menurutnya, tamu-tamu yang datang sebagian besar adalah warga lokal Jembrana. Jika pun wanitanya warga luar Jembrana atau luar Bali, pastilah itu cewek kafe.(BB).


TAGS :

Komentar