Bulan Mei, Tolong Hati-Hati Dengan 3 Isu Ini

google.com/image
Baliberkarya.com. Nasional-Bulan Mei ini di berbagai hasil penelitian perilaku investor di pasar saham lebih sering memilih memegang dana tunai. Mereka baru akan bermain saham lagi setelah perayaan Halloween. Apa alasannya?
 
Howard Gold dalam kolomnya mengungkapkan sebagian orang dalam menginvestasikan dana pensiunan pada bulan Mei menjual hampir 100 persen saham yang dimiliki dan akan membeli lagi pada bulan Oktober. Meskipun sebagai perilaku yang rumit tetapi nyatanya ada beberapa hal yang harus diperhatikan di bulan Mei. Faktor tersebut berpeluang banyak akan berpengaruh di bulan Mei terhadap pergerakan pasar.
 
Untuk bulan Mei tahun ini, ada beberapa alasan yang mendorong saham dalam posisi jual. Pertama soal isu sektor energi. Saat ini, harga minyak telah naik secara mengejutkan antara 75-80 persen sejak Januari hingga Februari dari level terendahnya saat itu di kisaran US$20 per barel.
 
Meskipun Pemerintah AS telah memangkas produksi lebih cepat dari tradisinya, namun tengkoklah negara-negara penghasil minyak utama seperti Iran. Dia melakukan hal yang sama. Apalagi tidak ada potensi permintaan akan naik drastis dalam waktu dekat. "Saya percaya ini sebagian dari siklus harga minyak mentah. Minyak juga sempat menyentuh level terendah pada tahun 2008," tulisnya seperti dikutip dari marketwatch.com.
 
Faktor kedua adalah imbal hasil obligasi yang sudah tinggi. Seperti pada harga minyak, investor lebih optimis beberapa perusahaan energi tidak akan gagal bayar pada imbal hasil obligasi sebagai dana segar untuk memompa pertumbuhan mereka.
 
Lembaga rating S&P merilis perusahaan raksasa perminyakan Exxon Mobil Corp memperbaiki rating ke AAA. S&P menilai Exxon terlalu mengandalkan buyback saham saat utang mereka menumpuk dua kali lipat. Kondisi setiap perusahaan memang berbeda-beda, tetapi jika penurunan laba juga terjadi pada perusahaan minyak yang paling stabil secara finansial, apa artinya?
 
Pada bulan Desember lalu, saat imbal hasil obligasi tinggi rekomendasinya adalah mengurangi portofolio ke depan, bukan melakukan penjualan seluruhnya.
 
Saham dan obligasi di pasar berkembang bisa menjadi alternatif. Pasar obligasi sangat rentan terhadap dolar AS dan kenaikan suku bunga serta perlambatan ekonomi di China. Isu ini sudah menggerogoti pasar selama ini.
 
Namun di pasar saham yang berada di negara berkembang telah menguat selama bertahun-tahun. Pasar obligasi dan pasar saham di negara berkembang telah mengalami reli sebesar 25 persen. Sebab investor mengejar kinerja perusahaan sebagai pertimbangan menginvestasikan dananya di pasar tersebut.
 
Apabila Anda belum menjual obligasi di negara berkembang, sekarang lah saatnya. Dalam beberapa perkiraan, pasar di kawasan ini akan berganti penurunan, terumaa di pasar saham China. "Perlambatan pertumbuhan ekonomi telah mengkhianati penguatan pasar," katanya. (BB/Inilah).
 
 

TAGS :

Komentar