Masyarakat Bali harus tetap Jaga Kerukunan

Baliberkarya.com- Sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar, budaya Bali yang adiluhung serta turut dibangun oleh keberagaman umat beragama harus dilestarikan dengan melibatkan peran penting seluruh pemuka agama didalamnya.

“Dengan kondisi Bali yang heterogen, masyarakat harus untuk selalu menjaga kerukunan dengan saling mengedepankan sikap toleransi, agar berbagai tantangan pembangunan ke depan yang semakin kompleks dapat dihadapi secara bersama-sama,” imbau Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam Pembukaan Musyawarah Antar Umat Beragama Provinsi Bali Tahun 2016, di Hotel Oranje, Denpasar, Selasa (10/5/2016).

Gubernur Pastika juga mengungkapkan bahwa musyawarah yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali tersebut, memiliki makna strategis untuk menyikapi dinamika sosial keagamaan antar umat khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya, selain itu juga menjadi wahana memantapkan komitmen seluruh umat beragama berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

Di samping itu, Pastika juga berharap dalam musyawarah tersebut juga dibahas dinamika dan isu-isu penting yang berpotensi mempengaruhi, mengganggu bahkan mengancam kerukunan masyarakat daerah Bali, sehingga menjadi pedoman bagi semua pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan dan mengambil langkah-langkah antisipatif.

Pastika juga menekankan kepada para pemangku kepentingan maupun masyarakat agar dalam menyelesaikan permasalahan, harus mengutamakan budaya dialog, dimana budaya bermusyawarah pada hakekatnya adalah “saling mendengarkan dan saling memberi masukan”. Selain itu, masyarakat Bali yang mengenal istilah “menyama braya” juga harus mendijadikannya pedoman dan panduan dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, agar tata kehidupan masyarakat Bali yang penuh toleransi dapat terwujud.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali I Dewa Gede Ngurah Swastha, mengungkapkan bahwa kurukunan dan kedamaian adalah dambaan setiap umat manusia dibumi ini, oleh karena itu membangun hal tersebut harus dijadikan sebagai suatu kebutuhan hidup. Ia juga menjelaskan bahwa musyawarah yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini, diikuti oleh para tokoh-tokoh umat, instansi pemerintah serta berbagai forum lintas agama, bertujuan membahas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan.

Dengan saling memahami antar umat beragama dalam masyarakat yang heterogen, maka perbedaan yang ada itu akan dapat dijadikan sebagai pendukung dalam membina semangat kebersamaan. Menurutnya, daerah Bali yang merupakan daerah tujuan wisata nusantara dan mancanegara, sudah tentu disamping keindahan alam dan budayanya, faktor keamanan, kedamaiaan, keramahan, kesopanan perlu dipelihara dan semua hal tersbeut dapat terwujud apabila masyarakatnya hidup dengan rukun.

Pada musyawarah yang akan dilaksanakan selama dua hari (10-11 mei 2016) diikuti oleh para peserta yang berasal dari instansi pemerintah, Forum Generasi Muda Listas Agama, Forum Perempuan Lintas Agama Provinsi Bali serta tokoh-tokoh umat beragama yang ada di Bali. Acara tersbeut juga akan diisi oleh beberapa pemateri yang diantaranya berasal dari  MUDP Bali, MUI, MATAKIN, MPAG, Walubi, Keuskupan, PHDI serta pemateri yang berasal dari FKUB Kab/Kota se-Bali.(bb)


TAGS :

Komentar